"Ada yang melihat orang
lain masuk ke perpustakaan ini.. mungkin kelibatan cahanya itu lah orangnya.
Tapi mengapa ia tidak muncul menghampirinya tadi? Atau apakah ia yang..."
Vanda bermain dengan benaknya sendiri. "Pak londra sangat sehat. Ia sering
bermain bola korgi bersama loup dan kawannya. Pak Londra tidak mempunyai
penyakit jantung" pikir Vanda lagi. "Pasti ada seseorang yang
membunuhnya. Tapi mengapa? Pak Londra selalu baik pada semua orang, Bahkan
pemabuk yang selalu ada di belakang halaman perpustakaannya."
“Ada hal ganjil di lembaran gambar yang ditunjukkan Ibu penjaga kemanan itu
tadi. Andai saja aku dapat mengingatnya”. Dahi Vanda berkerut sangat. Ia
berusaha mengingat-ngingat kejadian tadi pagi. Tapi yang terbayang hanya kulit
pucat Pak Londra yang mengerikan baginya.
Dirangkul petugas keamanan kota, Vanda dan Loup diantar pulang menuju rumahnya.
Perjalanan dari lapangan Voltren ke rumah ternyata memutar arah melewati
perpustakaan. Petugas itu ingin terlebih dahulu bertemu rekannya untuk
menyerahkan laporan sementara hasil interogasinya dengan Vanda. Terlihat
halaman perpustakaan dipenuhi oleh orang-orang. Baik itu yang berkepentingan
seperti para penjaga keamanan kota, petugas kesehatan kota, para masyarakat
yang ditanyai, dan juga mereka yang datang karena hanya ingin tahu ada apa
dibalik kerumunan ini.
Mengerling sedikit ke arah pintu perpustakaan, Vanda bergidik ngeri sekaligus
berharap mendapatkan informasi lebih banyak tentang pemabuk yang dikatakan
penjaga keamanan kota. “Itu disana!” benak Vanda. Ia melihat seorang lelaki
kumal memandangi mereka dari balik pohon besar dekat perpustakaan dengan mimik
penasaran dan takut. Ia kah pemabuk yang dimaksud? Vanda kini diantar menuju
rumahnya, ia yakin berita ini telah sampai lebih dulu pada keluarganya di rumah
sebelum ia sendiri sampai.
Setibanya di rumah, ibunya telah berdiri menunggu di depan pintu dengan wajah
cemas yang tak dibuat-buat. Segera ibunya berlari ke halaman dan memeluk Vanda.
“Dari mana saja, kau Nak? Ibu cemas. Apakah benar yang mereka katakan?” Vanda
merasa nyaman dipelukan ibunya. Hilang kini rasa takutnya akan kejadian tadi
pagi. Ibu baunya seperti roti Dumlep. Manis dan gurih.
Tinggal Loup yang risih dengan keadaan ini. Ia tak pernah diperlakukan begitu
hangat oleh ibunya. Jika ia dalam keadaan itu, pasti ibunya sedang berkacak
pinggang sambil melotot. Menunggunya untuk mengomeli Loup yang nakal. Tangan
Loup ditarik oleh ibu Vanda. “Loup, mari sini nak, kit aminum the dulu
bersama”. Loup menerima ajakan itu dan melangkah bertiga masuk kerumah Vanda
yang terang dan wangi vanelli.
Setelah menyelesaikan makan
roti Dumlep dan menjawab pertanyaan-pertanyaan ibunya, vanda pamit untuk
bicara sebentar dengan Loup di perpustakaan. Perpustakaan pribadi itu letaknya
agak di belakang dekat taman dengan pemandangan ke alam terbuka dan
jendela-jendela yang besar dan bisa dibuka lebar, sehingga kalau kita
duduk dekat jendela rasanya sama seperti sedang duduk di taman. Tapi kali ini
Vanda tidak membuka jendelanya, hanya menggeser kain penutupnya agar ruangan
itu dapat cahaya. Ditariknya sebuah kursi kayu berkaki besi dan duduk,
dimintanya Loup duduk di hadapannya, di seberang meja baca. setelah menyelesaikan
makan roti Dumlep dan menjawab pertanyaan-pertanyaan ibunya, vanda pamit
untuk bicara sebentar dengan Loup di perpustakaan. Perpustakaan pribadi itu
letaknya agak di belakang dekat taman dengan pemandangan ke alam terbuka dan
jendela-jendela yang besar dan bisa dibuka lebar, sehingga kalau kita
duduk dekat jendela rasanya sama seperti sedang duduk di taman.
Tapi kali ini Vanda tidak
membuka jendelanya, hanya menggeser kain penutupnya agar ruangan itu dapat
cahaya. Ditariknya sebuah kursi kayu berkaki besi dan duduk, dimintanya Loup
duduk di hadapannya, di seberang meja baca. lalu Vanda mengeluarkan sesuatu
dari tasnya. Loup terkesiap melihat apa yang dikeluarkan Vanda, 'bukankah itu
lembar foto yang tadi ditunjuk ibu penjaga keamanan kota?', tanya Loup-ragu-berharap
jawabannya adalah hal yang tidak sedang ia pikirkan saat ini. 'iya,aku ambil
saat benda ini ditinggal di meja karena menurutku ada yang aneh'. Loup
mengerang-jawaban Vanda sudah seperti yang diduganya.
"Apa yang aneh?"
tanya Loup. "yang aneh itu adalah kau, Vanda!Photo ini kan bukan milikmu, nanti
kau dicari penjaga kemanan kota baru tahu rasa." Tanpa mengelak Vanda
menerangkan "entahlah Loup." Vanda memberikan photo itu pada Loup.
Loup mengambilnya dan melihatnya dengan seksama. "ini semua abarang yang
ada di meja Pak Londra? humm ini pasti bekas lilin tothy, yang ini tumpukan
kartu ramal, yang ini buku .. sepetinya tak ada yang aneh, kecuali Kartu ramal
yang terbuka ini semuanya tak ada gambarnya. Bukankah kartu ramal itu biasanya
bergambar cerah? seperti gambar awan, matahari, perempuan." Tiba tiba
Vanda bangkit dan hampir berteriak "Nah! itu dia! kartu itu! Tadi pagi
sepertinya aku melihatnya ada gambar di atasnya. Mengapa sekarang tidak
ada?" Tanya Vanda bersemangat.
Loup menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya menatap ke langit-langit
sambil menggoyangkan kedua kakinya. Vanda tahu bahwa Loup sedang berpikir. Gaya
Loup khas sekali. "Astaga!" teriak Loup yang langsung menarik tangan
Vanda keluar dari ruang perpustakaan ayahnya. "Ada apa Loup?" tanya
Vanda kebingungan. Loup tak menjawab. Masih kencang genggaman tangannya pada
Vanda. "Sepertinya aku tahu hal yang kau bingungkan itu. Kartu ramal itu,
bukan kartu biasa. Ikuti aku". Mereka berdua kini setengah berlari
melewati halaman belakang rumah Vanda yang berkaitan dengan halaman belakang
rumah Loup.
Vanda tak pernah meremehkan
otak encer Loup. Ia sering meminjam pekerjaan rumah Loup untuk disalin. Vanda
memang tak begitu paham dengan geometri, Aljabar dan sebangsanya. Loup tak suka
Vanda mencontek, tapi leboh tak suka lagi mengajarkan Geometri pada vanda yang
langsung tertidur ketika baru saja memulai menerangkan pelajaran itu. Kini Loup
selalu pasrah ketika pekerjaan rumahnya itu disalin oleh Vanda.
Tapi Vanda tak mengerti mengapa Loup menariknya. Apakah Loup berhasil menemukan
sesuatu? Benaknya berputar seiring dengan badannya yang lunglai ditarik Loup
keluar. Loup mengerahkan hampir seluruh tenaganya untuk menarik Vanda. Tubuhnya
yang kurus tak terlalu hebat untuk menarik beban tubuh Vanda yang padat. Maka
Vanda ikut saja dengan malas. Walhasil, mereka berdua terjerembab tersandung
sapu lidi yang diletakkan didekat tiang lampu rumah Vanda.
"Buku itu!, dimana kau taruh buku itu?" tanya Loup terengah-engah.
"Buku apa? tanya Vanda. Oooh buku kosong itu? aku taruh di kotak pos
Nyonya Kiring. Aku tadi malas membanyanya. Buku cukup berat", balas Vanda.
Lalu Loup berkata cepat "OK, aku akan ke sana untuk mengambil buku itu.
Kau punya uang? aku tidak punya. Kau pergilah ke pusat kota. beli sebatang
lilin tothy. Kita bertemu lagi disini." Loup menyerocos mengkomando. Lalu
berlari melesat ke rumah Nyonya Kiring meningalkan Vanda yang sekarang melongo
tanpa tahu apa yang terjadipada temannya.
Vanda beranjak bangun dari
rumput yang selalu lembab di pekarangan belakang rumahnya. Terlihat tulang
keringnya membiru akibat terantuk akar pohon yang menyeruak timbul dari dalam
tanah. Sial! pikir Vanda. Ngilu rasanya Vanda melangkah kembali kedalam
rumahnya. segera ia menuju ke kamarnya dan mengeluarkan kotak kaleng bekas
biskuit dari laci meja belajarnya.
Kotak itu berwarna biru keemasan, berkilau dibawah lampu hidup belasan kunang
kunang. Dibukanya kotak itu ada banyak koin dan beberapa uang kertas beragam
satuannya. "Mengapa aku yang membeli Lilin Tothy? berapa yah harganya
sekarang? apa uang ku cukup? tak apa lah.. toh uang ini memang kutabung untuk
membelikan hadiah ulang tahun Loup. Nanti bila ulang tahunnya tiba tak uash
lagi membeli hadiah." pikir Vanda. "Ini mungkin cukup" bisik
Vanda sambil mengantongi seraup uang kertas dari dalam kaleng.
Vanda mengambil sepedanya di halaman lalu keluar ke jalan dan mengayuhnya
perlahan menuju toko kelontong pak Otto yang pasti menjual lilin tothy. Sepanci
air mendidih, Loup dan Vanda telah berada di halaman belakang rumah Loup. Vanda
menyerahkan bungkusan berisi lilin tothy pada loup. "Nih! Dan aku
membelikan ini buat mu" kata Vanda sambil mengulurkan tangan kirinya yang
memegang sebotol plastik minuman limun jeruk pada Loup. "Hei baik sekali
kau!" Loup menyambutnya dan menegaknya sampai habis. "Nah, Apa selajutnya
kapten Loup? tanya vanda meledek".
Angin dingin berhembus mengibarkan rambut panjang Vanda. Vanda menggigil
kedinginan sambil mengusap-usap telapak tangannya berharap mendapat kehangatan.
Oh, Hari akan hujan. Mari ke rumahku saja, kata loup. Lagi lagi vanda menikuti
perintah loup seperti kuda bajak. dan dalam beberapa saat mereka terah berada
di kamar loup yang gelap dan sedikit pengap. Loup membuka jendelanya agar udara
masuk. "Mengapa gelap sekali disini, Loup? mana lampu kunang-kunangmu?"
tannya Vanda. "Nah sebab itu kau kusuruh membeli lilin. Aku tak sempat
menangkap kunang-kunang hari ini." Loup tersenyum nakal. "Jadi kau
menyuruhku menghabiskan tabunganku untuk menyalakan lilin tothy dikamarmu yang
busuk ini? aku mau pulang saja!" Vanda kesal merasa ditipu. "Tunggu
dulu, Vanda! aku ingin menunjukkan sesuatu pada mu. Aku akan menebus dosa yang
bukan kesalahanku pada mu." kata loup, masih dengan senyum nakalnya.
Vanda merajuk diam. Dalam hati ia bertanya dengan riang. "Apakah Loup
ingin menciumku? Ia ingin suasana romantis di kamar ini, berdua, diterangi
dengan lilin tothy? hummm. Mengapa ia tak pernah mengajakku berkencan ke taman
seperti banyak anak laki-laki lainnya? Loup memang beda.." Bukkk! tiba
tiba sebuah bantal mendarat di muka Vanda. Bunga-bungan dalam lamunannya buyar
seketika. Loup telah menimpuknya!. Vanda geram. Ingin sekali mencekik batang
leher Loup.
"Heh, pelamun!" sapa Loup. "Lihatlah ini". Amarah Vanda
menghilang setelah melihat benda didepan matanya. Sebuah buku besar, tebal
berwarna kecoklatan yang terbuka diatas peti. Buku itu .. bersajak. Nyata
sekali tulisan yang tergores di halaman demi halaman. Vanda membaca halaman
pertamanya. sebuah sajak tak beratuaran yang berjudul: Gerbang.
Dgn suara pelan nyaris
khidmat ia membacanya untuk loup..
“gerhana datang dalam suara sumbang,
lalu dipecahkannya langit
malam..
menampakkan bahaya yg tak
kasat mata dan begitulah akhirnya, ia padamkan smua asa
ah.. manusia, buah perbuatanmu niscaya bertumbuh
cintakulah yg membuatmu berpaling, lihatlah jauh dalam hatimu.. aku adalah
kamu”
Loup berjalan mondar mandir dalam kamarnya, bergumam sendiri. 'jadi dengan
bantuan lilin tothy kita bisa membaca buku yang sepertinya kosong itu. Tapi…
kalau begitu, apa yang istemewa dari buku itu? toh pada akhirnya secara tidak
sengaja orang lain akan bisa membaca buku itu. lalu kenapa pak londra malah
memberikan buku itu pada vanda dan bukan orang dewasa yang lebih pintar dari
vanda? apa yang membuat vanda istemewa dan mengapa pak londra menganggap buku
itu sangat istimewa? sementara loup bergumam sendiri, vanda asik memandangi
kata perkata puisi yg br saja dbacanya. Ia melihatnya.. tetapi apakah loup juga
melihatnya? 'loup, kemarilah..' teriak vanda. Loup tersentak kaget lalu
menggerutu.
“Pelankan suaramu. Kamarku ini kecil, aku tdk mau ibuku datang kesini dan
melihat yg kt lakukan..” vanda menggumamkan kata “maaf loup, aku lupa” dengan
berbisik. “kemarilah loup, ada yang ingin kutunjukkan padamu” ia memanggil loup
dengan lambaian tgnnya. loup mendekat, berdiri tepat disamping vanda. lilin
tothy tampakny sdh mengacaukan otaknya, dalam keremangan cahaya dan wangi bunga
astride yg memabukkan, vanda terlihat sangat wanita sekali. Loup terpaku
melihatnya. “seperti bukan vanda saja” pikirnya. Suara vanda kembali membawanya
ke alam nyata 'coba lihat puisi ini. Apa yang kau lihat loup” disodorkannya
buku tua itu kehadapan loup. Vanda berharap loup dapat melihat apa yang
dilihatnya. Ia bergerak-gerak gelisah, menunggu dengan tidak sabar.
Loup buru-buru melihat lembaran itu. ‘hmmm.. hmmm..” loup bingung dengan apa
yang seharusnya ia lihat. “Tidak ada yang aneh.. hanya barisan puisi yang biasa
saja”… lalu tiba-tiba ia terkesiap..”ah aku tahu…”. Vanda menahan nafas
menunggu..loup pelan-pelan menyusurkan jarinya pada satu titik dillembar buku
itu “aku tahu vanda… ada yang menumpahkan minyak lilin tothy di sini..” loup
menunjuk noda berminyak samar sambil terkikik. Vanda memukul loup keras..
“kau.. menyebalkan..” kata vanda sambil terus memukul loup. Loup menghindari
vanda, untuk seorang anak gadis, ia punya pukulan yang mematikan.. “maaf.. maaf
aku bercanda.. habis kau serius sekali.. sudah vanda hentikan, aku meminta
maaf” vanda berhenti memukuli loup. Tapi bibir mungilnya masih cemberut dan
membuatnya tampak lucu. Loup tertawa melihatnya, tapi melihat tatapan tidak
suka vanda, ia menutup mulutnya dengan tangan dan tertawa pelan.
“Memang apa yg kau lihat?” lopu buru-buru bertanya. Vanda menatap loup 'masa
kau tdk melihat kalau beberapa huruf memancarkan cahaya? loup menggelengkan
kepalanya. “hampir disemua baris ada beberapa huruf yang bercahay… seperti
hendak mengatakan sesuatu..”kata vanda lagi. Ia sudah melupakan kekesalannya
karena loup mengerjainya tadi. Ada masalah lain yang harus dipecahkannya dan ia
membutuhkan loup untuk membantunya. Loup menatap buku itu lagi “aneh sekali..
coba kau tuliskan huruf-huruf itu vanda. mungkin kita akan bisa menemukan
sesuatu dari huruf-huruf itu” loup mengeluarkan pulpen dan buku dr dlm tasnya
dan memberikanny pada vanda. Vanda kemudian menuliskan huruf2 yg bercahaya,
sambil sesekali melihat buku itu. Loup berdecak tdk sabar. Vanda memang pelupa,
ia tidak bisa mengingat bnyk hal dlm wkt bsamaan. Kelemahan yg membuatny tampak
sangat wajar meski terkadang membuat loup kesal. Tp loup tdk mengatakan apapun,
tidak memburu-buru vanda, karena vanda akan sangat marah kalau loup mengganggu
konsentrasinya. Tubuh loup sudah terasa nyeri karena pukulan vanda tadi.
Dan Loup terlalu penasaran dengan huruf-huruf tadi.
Setelah beberapa menit berlalu. Vanda meletakkan penanya, dan menunjukan
barisan huruf yg br saja ditulisnya 'apakah kau mengerti?' vanda bertanya krn
loup yg pintar pasti bisa lebih cepat merangkai kata dr pd dirinya. Loup
melihat dgn keseriusan yg tinggi, vanda hampir tertawa melihatnya. 'gerbang
cahaya itu ada percayalah pd hatimu'. Vanda tertegun mendengarnya 'gerbang
cahaya itu ada percayalah pd hatimu.. gerbang cahaya itu ada.. gerbang itu ada'
dgn tiba2 dipeluknya loup 'gerbang ke kota itu ada loup. Ingatkah kau waktu pak
londra memberikan buku ini untukku? Buku ini kuncinya.. puisi-puisi ini akan
menuntun kita kesana.. ke gerbang menuju kota dimana matahari bersinar lama,
tempat dimana bung astride masih mekar dengan sempurna”.
Loup hny bisa bengong, bingung hrs bereaksi sperti apa.Tiba2 vanda mlepaskan
plukannya,lalu mmukul dahiny 'ini gawat loup' katanya. 'Eh...' cuma itu yg bisa
diucapkan oleh loup. Vanda berkata dgn tdk sabar 'kalau gerbang itu benar2 ada.
Brarti kt harus memecahkan petunjuk2 yg ada didalam buku ini. Ini artinya berpuluh2
batang lilin tothy. Gawat karena uangku sdh habis untk mmbeli lilin ini.
Gawat.. ?' skali lg loup hanya bisa mnjwab 'ya gawat' smntara dadany berdebar
dengan keras sampai-sampai ia berfikir vanda pasti bisa mendengarnya.”gawat”
ulangnya lagi dengan pelan..