Selasa, 10 April 2012

Perpustakaan Pak Londra (5)

Vanda berjalan sambil menikmati udara pagi yang dingin dan segar, kakinya hanya beralaskan sandal tali kulit sehingga embun mengelus jari-jemarinya sampai kedinginan.

Melewati lapangan Voltren pada pagi hari di jam-jam dimana orang-orang mungkin masih sarapan atau terlelap rasanya sangat berbeda dengan melewatinya pada siang atau sore hari. Masih sangat sepi dan tidak ada anak bermain bola korgi. Rumput-rumput liar terbujur kaku karena beku, sinar matahari belum menghangatkan udara di sekitarnya. Lapangan itu nyaris kosong. Hanya ada ibu penjual sayuran yang menyempatkan diri membawa bayinya menikmati matahari pagi dan beberapa pedagang montel – minuman asam berwarna hijau gelap penghangat lambung yang biasanya dibeli oleh para pengunjung lapangan.

Tadi sebelum sarapa Vanda memeriksa ulang buku itu, yang menurut Pak Londra adalah buku yang terdengar tentang jalan menuju tempat yang tidak pernah gelap. Tapi tidak ada apapun di dalamnya. Ia hanya bisa mencium bau lapuk dari kertas-kertas tua di dalamnya dan wangi sesuatu, yang tidak dikenalnya. Ia belum pernah mencium bau apapun yang seperti itu. Wangi lembut seperti bunga, agak tajam seperti minuman yang kerapa diminum ayahnya, dan wangi manis yang mengundang hasrat penasarannya – misterius - entah apa dan bagaimana harus menjelaskannya.

Selesai memeriksa dan hasilnya nihil, ia memutuskan segera turun ke ruang makan dimana Ibunya sudah menyiapkan sepotong besar roti, keju hangat yang baru dikeluarkan dari bungkus kulit sapi tanda baru dibeli pagi ini. Juga, dua iris panjang daging sapi berlumur kaldu dan susu panas yang masih berdadih. Vanda turun agak terlalu pagi sampai belum ada satu orangpun di meja makan. Ibunya masih sibuk bersama nona Minaili memotong beberapa buah untuk dijadikan makanan penutup. Vanda buru-buru mengambil keju dan roti bagiannya lalu bergegas menyelinap melalui pintu depan.

Dimasukkannya rotinya ke tas. Ia malas ditanya maupergi kemana pagi-pagi begini dan perpustakaan adalah alasan yang pasti sulit diterima Ibunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar