Vanda sudah sampai di depan
pagar perpustakaan sekarang. Ia ragu-ragu untuk masuk takut Pak Londra masih
terlelap di pagi yang dingin ini dimana orang-orang setua dia mungkin lebih
suka menarik selimut sampai ke lutut dan duduk di depan perapian sambil minum
montel hangat, bukan berada di perpustakaan yang gelap, lembap dan berbau debu
buku. Tapi ia ingat kata-kata kakek tua itu bertahun-tahun lalu. “datanglah
kesini kapanpun kalian mau”. Waktu itu Vanda mengangguk saja, lalu Pak Londra
dibalik kacamatanya menatap Vanda hangat.
“Kapanpun. Artinya benar-benar kapanpun. Perpustakaan ini tidak pernah tutup. Ingat itu, nak”. Katanya lembut sekaligus tegas. Saat itu Vanda tidak merasa itu adalah hal yang penting untuk diingat hanya mengangguk riang dan bergegas pergi sambil membawa buku dongen yang dipinjamnya. Baru hari ini ia tahu kata-kata itu punya arti penting baginya.
“Kapanpun. Artinya benar-benar kapanpun. Perpustakaan ini tidak pernah tutup. Ingat itu, nak”. Katanya lembut sekaligus tegas. Saat itu Vanda tidak merasa itu adalah hal yang penting untuk diingat hanya mengangguk riang dan bergegas pergi sambil membawa buku dongen yang dipinjamnya. Baru hari ini ia tahu kata-kata itu punya arti penting baginya.
Didorongnya pagar besi hitam yang mengilap itu. Walaupun suasananya agak suram, segala sesuatu di perpustakaan terawat baik, mungkin kecuali karpet merah marun lapuk yang memang agak mahal apabila harus membeli baru. Tapi yang jelas semuanya dalam keadaan bersih dan terawat baik.
Perpustakaan masih kosong sepertinya, Vanda mendorong pintu kayu besar yang berbentuk seperti buah nanas itu dan mendapati meja-meja masih gelap dan kursi-kursi masih tersimpan rapi di tepi-tepi meja. Hanya ada satu meja yang agak terang di pojok ruang baca – meja baca Pak Londra. Lilin toothy yang tinggal sebuku jari menerangi meja kayu jati dimana ia melihat Pak Londra tertunduk menghadap meja. Ia menutup pintu pelan, agak heran, biasanya Pak Londra selalu menyapa pengunjung yang dating ke perpustakaannya. Tertidurkah ia?
Vanda mendekat, matanya terpaku pada lilin toothy yang menyinari dahi pak Londra yang agak gelap tertutup bayang-bayang rak buku di samping-sampingnya. “Pak Londra”, panggilnya pelan. Wajah kerut itu tetap diam. Wangi bunga astride yang memenuhi ruangan membius Vanda, membuatnya merasa nyaman dan hangat. “Pak..”, panggilnya lagi. Kali ini ia berada cukup dekat dengan Pak Londra untuk melihat wajahnya. Tak ada yang aneh, wajah itu tetap terlihat lembut sekaligus lelah seperti biasanya, yang mengkhawatirkan adalah mata yang terbuka, kulit yang seputih kertas dan sapaannya yang tanpa jawaban.
Vanda mundur – tercekat. Mengurungkan niatnya untuk menyentuh kakek tua itu. Dadanya bergemuruh, berdebar-debar kencang antara kaget dan takut. Takut akan pikiran yang berkelebat sekarang dalam dirinya itu nyata, dan kaget mendapati kenyataan ini pertama kalinya ia menemukan kejadian yang mungkin saja semengerikan pikirannya.
Lilin toothy yang hampir habis menerangi gambar-gambar di lembaran yang terhampar di meja itu. Vanda sempat menangkapnya sekilas sebelum berlari keluar. Setelah memastikan ia telah menutup rapat pintunya, ia berlari kembali ke rumah Loup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar