Selasa, 10 April 2012

Perpustakaan Pak Londra (8)

"Ada yang melihat orang lain masuk ke perpustakaan ini.. mungkin kelibatan cahanya itu lah orangnya. Tapi mengapa ia tidak muncul menghampirinya tadi? Atau apakah ia yang..." Vanda bermain dengan benaknya sendiri. "Pak londra sangat sehat. Ia sering bermain bola korgi bersama loup dan kawannya. Pak Londra tidak mempunyai penyakit jantung" pikir Vanda lagi. "Pasti ada seseorang yang membunuhnya. Tapi mengapa? Pak Londra selalu baik pada semua orang, Bahkan pemabuk yang selalu ada di belakang halaman perpustakaannya."

“Ada hal ganjil di lembaran gambar yang ditunjukkan Ibu penjaga kemanan itu tadi. Andai saja aku dapat mengingatnya”. Dahi Vanda berkerut sangat. Ia berusaha mengingat-ngingat kejadian tadi pagi. Tapi yang terbayang hanya kulit pucat Pak Londra yang mengerikan baginya.

Dirangkul petugas keamanan kota, Vanda dan Loup diantar pulang menuju rumahnya. Perjalanan dari lapangan Voltren ke rumah ternyata memutar arah melewati perpustakaan. Petugas itu ingin terlebih dahulu bertemu rekannya untuk menyerahkan laporan sementara hasil interogasinya dengan Vanda. Terlihat halaman perpustakaan dipenuhi oleh orang-orang. Baik itu yang berkepentingan seperti para penjaga keamanan kota, petugas kesehatan kota, para masyarakat yang ditanyai, dan juga mereka yang datang karena hanya ingin tahu ada apa dibalik kerumunan ini.

Mengerling sedikit ke arah pintu perpustakaan, Vanda bergidik ngeri sekaligus berharap mendapatkan informasi lebih banyak tentang pemabuk yang dikatakan penjaga keamanan kota. “Itu disana!” benak Vanda. Ia melihat seorang lelaki kumal memandangi mereka dari balik pohon besar dekat perpustakaan dengan mimik penasaran dan takut. Ia kah pemabuk yang dimaksud? Vanda kini diantar menuju rumahnya, ia yakin berita ini telah sampai lebih dulu pada keluarganya di rumah sebelum ia sendiri sampai.

Setibanya di rumah, ibunya telah berdiri menunggu di depan pintu dengan wajah cemas yang tak dibuat-buat. Segera ibunya berlari ke halaman dan memeluk Vanda. “Dari mana saja, kau Nak? Ibu cemas. Apakah benar yang mereka katakan?” Vanda merasa nyaman dipelukan ibunya. Hilang kini rasa takutnya akan kejadian tadi pagi. Ibu baunya seperti roti Dumlep. Manis dan gurih.

Tinggal Loup yang risih dengan keadaan ini. Ia tak pernah diperlakukan begitu hangat oleh ibunya. Jika ia dalam keadaan itu, pasti ibunya sedang berkacak pinggang sambil melotot. Menunggunya untuk mengomeli Loup yang nakal. Tangan Loup ditarik oleh ibu Vanda. “Loup, mari sini nak, kit aminum the dulu bersama”. Loup menerima ajakan itu dan melangkah bertiga masuk kerumah Vanda yang terang dan wangi vanelli.

Setelah menyelesaikan makan roti Dumlep dan menjawab pertanyaan-pertanyaan ibunya, vanda pamit untuk bicara sebentar dengan Loup di perpustakaan. Perpustakaan pribadi itu letaknya agak di belakang dekat taman dengan pemandangan ke alam terbuka dan jendela-jendela yang besar dan bisa dibuka lebar, sehingga kalau kita duduk dekat jendela rasanya sama seperti sedang duduk di taman. Tapi kali ini Vanda tidak membuka jendelanya, hanya menggeser kain penutupnya agar ruangan itu dapat cahaya. Ditariknya sebuah kursi kayu berkaki besi dan duduk, dimintanya Loup duduk di hadapannya, di seberang meja baca. setelah menyelesaikan makan roti Dumlep dan menjawab pertanyaan-pertanyaan ibunya, vanda pamit untuk bicara sebentar dengan Loup di perpustakaan. Perpustakaan pribadi itu letaknya agak di belakang dekat taman dengan pemandangan ke alam terbuka dan jendela-jendela yang besar dan bisa dibuka lebar, sehingga kalau kita duduk dekat jendela rasanya sama seperti sedang duduk di taman.

Tapi kali ini Vanda tidak membuka jendelanya, hanya menggeser kain penutupnya agar ruangan itu dapat cahaya. Ditariknya sebuah kursi kayu berkaki besi dan duduk, dimintanya Loup duduk di hadapannya, di seberang meja baca. lalu Vanda mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Loup terkesiap melihat apa yang dikeluarkan Vanda, 'bukankah itu lembar foto yang tadi ditunjuk ibu penjaga keamanan kota?', tanya Loup-ragu-berharap jawabannya adalah hal yang tidak sedang ia pikirkan saat ini. 'iya,aku ambil saat benda ini ditinggal di meja karena menurutku ada yang aneh'. Loup mengerang-jawaban Vanda sudah seperti yang diduganya.

"Apa yang aneh?" tanya Loup. "yang aneh itu adalah kau, Vanda!Photo ini kan bukan milikmu, nanti kau dicari penjaga kemanan kota baru tahu rasa." Tanpa mengelak Vanda menerangkan "entahlah Loup." Vanda memberikan photo itu pada Loup. Loup mengambilnya dan melihatnya dengan seksama. "ini semua abarang yang ada di meja Pak Londra? humm ini pasti bekas lilin tothy, yang ini tumpukan kartu ramal, yang ini buku .. sepetinya tak ada yang aneh, kecuali Kartu ramal yang terbuka ini semuanya tak ada gambarnya. Bukankah kartu ramal itu biasanya bergambar cerah? seperti gambar awan, matahari, perempuan." Tiba tiba Vanda bangkit dan hampir berteriak "Nah! itu dia! kartu itu! Tadi pagi sepertinya aku melihatnya ada gambar di atasnya. Mengapa sekarang tidak ada?" Tanya Vanda bersemangat.

Loup menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya menatap ke langit-langit sambil menggoyangkan kedua kakinya. Vanda tahu bahwa Loup sedang berpikir. Gaya Loup khas sekali. "Astaga!" teriak Loup yang langsung menarik tangan Vanda keluar dari ruang perpustakaan ayahnya. "Ada apa Loup?" tanya Vanda kebingungan. Loup tak menjawab. Masih kencang genggaman tangannya pada Vanda. "Sepertinya aku tahu hal yang kau bingungkan itu. Kartu ramal itu, bukan kartu biasa. Ikuti aku". Mereka berdua kini setengah berlari melewati halaman belakang rumah Vanda yang berkaitan dengan halaman belakang rumah Loup.

Vanda tak pernah meremehkan otak encer Loup. Ia sering meminjam pekerjaan rumah Loup untuk disalin. Vanda memang tak begitu paham dengan geometri, Aljabar dan sebangsanya. Loup tak suka Vanda mencontek, tapi leboh tak suka lagi mengajarkan Geometri pada vanda yang langsung tertidur ketika baru saja memulai menerangkan pelajaran itu. Kini Loup selalu pasrah ketika pekerjaan rumahnya itu disalin oleh Vanda.

Tapi Vanda tak mengerti mengapa Loup menariknya. Apakah Loup berhasil menemukan sesuatu? Benaknya berputar seiring dengan badannya yang lunglai ditarik Loup keluar. Loup mengerahkan hampir seluruh tenaganya untuk menarik Vanda. Tubuhnya yang kurus tak terlalu hebat untuk menarik beban tubuh Vanda yang padat. Maka Vanda ikut saja dengan malas. Walhasil, mereka berdua terjerembab tersandung sapu lidi yang diletakkan didekat tiang lampu rumah Vanda.

"Buku itu!, dimana kau taruh buku itu?" tanya Loup terengah-engah. "Buku apa? tanya Vanda. Oooh buku kosong itu? aku taruh di kotak pos Nyonya Kiring. Aku tadi malas membanyanya. Buku cukup berat", balas Vanda. Lalu Loup berkata cepat "OK, aku akan ke sana untuk mengambil buku itu. Kau punya uang? aku tidak punya. Kau pergilah ke pusat kota. beli sebatang lilin tothy. Kita bertemu lagi disini." Loup menyerocos mengkomando. Lalu berlari melesat ke rumah Nyonya Kiring meningalkan Vanda yang sekarang melongo tanpa tahu apa yang terjadipada temannya.

Vanda beranjak bangun dari rumput yang selalu lembab di pekarangan belakang rumahnya. Terlihat tulang keringnya membiru akibat terantuk akar pohon yang menyeruak timbul dari dalam tanah. Sial! pikir Vanda. Ngilu rasanya Vanda melangkah kembali kedalam rumahnya. segera ia menuju ke kamarnya dan mengeluarkan kotak kaleng bekas biskuit dari laci meja belajarnya.

Kotak itu berwarna biru keemasan, berkilau dibawah lampu hidup belasan kunang kunang. Dibukanya kotak itu ada banyak koin dan beberapa uang kertas beragam satuannya. "Mengapa aku yang membeli Lilin Tothy? berapa yah harganya sekarang? apa uang ku cukup? tak apa lah.. toh uang ini memang kutabung untuk membelikan hadiah ulang tahun Loup. Nanti bila ulang tahunnya tiba tak uash lagi membeli hadiah." pikir Vanda. "Ini mungkin cukup" bisik Vanda sambil mengantongi seraup uang kertas dari dalam kaleng.

Vanda mengambil sepedanya di halaman lalu keluar ke jalan dan mengayuhnya perlahan menuju toko kelontong pak Otto yang pasti menjual lilin tothy. Sepanci air mendidih, Loup dan Vanda telah berada di halaman belakang rumah Loup. Vanda menyerahkan bungkusan berisi lilin tothy pada loup. "Nih! Dan aku membelikan ini buat mu" kata Vanda sambil mengulurkan tangan kirinya yang memegang sebotol plastik minuman limun jeruk pada Loup. "Hei baik sekali kau!" Loup menyambutnya dan menegaknya sampai habis. "Nah, Apa selajutnya kapten Loup? tanya vanda meledek".

Angin dingin berhembus mengibarkan rambut panjang Vanda. Vanda menggigil kedinginan sambil mengusap-usap telapak tangannya berharap mendapat kehangatan. Oh, Hari akan hujan. Mari ke rumahku saja, kata loup. Lagi lagi vanda menikuti perintah loup seperti kuda bajak. dan dalam beberapa saat mereka terah berada di kamar loup yang gelap dan sedikit pengap. Loup membuka jendelanya agar udara masuk. "Mengapa gelap sekali disini, Loup? mana lampu kunang-kunangmu?" tannya Vanda. "Nah sebab itu kau kusuruh membeli lilin. Aku tak sempat menangkap kunang-kunang hari ini." Loup tersenyum nakal. "Jadi kau menyuruhku menghabiskan tabunganku untuk menyalakan lilin tothy dikamarmu yang busuk ini? aku mau pulang saja!" Vanda kesal merasa ditipu. "Tunggu dulu, Vanda! aku ingin menunjukkan sesuatu pada mu. Aku akan menebus dosa yang bukan kesalahanku pada mu." kata loup, masih dengan senyum nakalnya.

Vanda merajuk diam. Dalam hati ia bertanya dengan riang. "Apakah Loup ingin menciumku? Ia ingin suasana romantis di kamar ini, berdua, diterangi dengan lilin tothy? hummm. Mengapa ia tak pernah mengajakku berkencan ke taman seperti banyak anak laki-laki lainnya? Loup memang beda.." Bukkk! tiba tiba sebuah bantal mendarat di muka Vanda. Bunga-bungan dalam lamunannya buyar seketika. Loup telah menimpuknya!. Vanda geram. Ingin sekali mencekik batang leher Loup.

"Heh, pelamun!" sapa Loup. "Lihatlah ini". Amarah Vanda menghilang setelah melihat benda didepan matanya. Sebuah buku besar, tebal berwarna kecoklatan yang terbuka diatas peti. Buku itu .. bersajak. Nyata sekali tulisan yang tergores di halaman demi halaman. Vanda membaca halaman pertamanya. sebuah sajak tak beratuaran yang berjudul: Gerbang.

Dgn suara pelan nyaris khidmat ia membacanya untuk loup..

“gerhana datang dalam suara sumbang,
lalu dipecahkannya langit malam..
menampakkan bahaya yg tak kasat mata dan begitulah akhirnya, ia padamkan smua asa
ah.. manusia, buah perbuatanmu niscaya bertumbuh
cintakulah yg membuatmu berpaling, lihatlah jauh dalam hatimu.. aku adalah kamu”

Loup berjalan mondar mandir dalam kamarnya, bergumam sendiri. 'jadi dengan bantuan lilin tothy kita bisa membaca buku yang sepertinya kosong itu. Tapi… kalau begitu, apa yang istemewa dari buku itu? toh pada akhirnya secara tidak sengaja orang lain akan bisa membaca buku itu. lalu kenapa pak londra malah memberikan buku itu pada vanda dan bukan orang dewasa yang lebih pintar dari vanda? apa yang membuat vanda istemewa dan mengapa pak londra menganggap buku itu sangat istimewa? sementara loup bergumam sendiri, vanda asik memandangi kata perkata puisi yg br saja dbacanya. Ia melihatnya.. tetapi apakah loup juga melihatnya? 'loup, kemarilah..' teriak vanda. Loup tersentak kaget lalu menggerutu.

“Pelankan suaramu. Kamarku ini kecil, aku tdk mau ibuku datang kesini dan melihat yg kt lakukan..” vanda menggumamkan kata “maaf loup, aku lupa” dengan berbisik. “kemarilah loup, ada yang ingin kutunjukkan padamu” ia memanggil loup dengan lambaian tgnnya. loup mendekat, berdiri tepat disamping vanda. lilin tothy tampakny sdh mengacaukan otaknya, dalam keremangan cahaya dan wangi bunga astride yg memabukkan, vanda terlihat sangat wanita sekali. Loup terpaku melihatnya. “seperti bukan vanda saja” pikirnya. Suara vanda kembali membawanya ke alam nyata 'coba lihat puisi ini. Apa yang kau lihat loup” disodorkannya buku tua itu kehadapan loup. Vanda berharap loup dapat melihat apa yang dilihatnya. Ia bergerak-gerak gelisah, menunggu dengan tidak sabar.

Loup buru-buru melihat lembaran itu. ‘hmmm.. hmmm..” loup bingung dengan apa yang seharusnya ia lihat. “Tidak ada yang aneh.. hanya barisan puisi yang biasa saja”… lalu tiba-tiba ia terkesiap..”ah aku tahu…”. Vanda menahan nafas menunggu..loup pelan-pelan menyusurkan jarinya pada satu titik dillembar buku itu “aku tahu vanda… ada yang menumpahkan minyak lilin tothy di sini..” loup menunjuk noda berminyak samar sambil terkikik. Vanda memukul loup keras.. “kau.. menyebalkan..” kata vanda sambil terus memukul loup. Loup menghindari vanda, untuk seorang anak gadis, ia punya pukulan yang mematikan.. “maaf.. maaf aku bercanda.. habis kau serius sekali.. sudah vanda hentikan, aku meminta maaf” vanda berhenti memukuli loup. Tapi bibir mungilnya masih cemberut dan membuatnya tampak lucu. Loup tertawa melihatnya, tapi melihat tatapan tidak suka vanda, ia menutup mulutnya dengan tangan dan tertawa pelan.

“Memang apa yg kau lihat?” lopu buru-buru bertanya. Vanda menatap loup 'masa kau tdk melihat kalau beberapa huruf memancarkan cahaya? loup menggelengkan kepalanya. “hampir disemua baris ada beberapa huruf yang bercahay… seperti hendak mengatakan sesuatu..”kata vanda lagi. Ia sudah melupakan kekesalannya karena loup mengerjainya tadi. Ada masalah lain yang harus dipecahkannya dan ia membutuhkan loup untuk membantunya. Loup menatap buku itu lagi “aneh sekali.. coba kau tuliskan huruf-huruf itu vanda. mungkin kita akan bisa menemukan sesuatu dari huruf-huruf itu” loup mengeluarkan pulpen dan buku dr dlm tasnya dan memberikanny pada vanda. Vanda kemudian menuliskan huruf2 yg bercahaya, sambil sesekali melihat buku itu. Loup berdecak tdk sabar. Vanda memang pelupa, ia tidak bisa mengingat bnyk hal dlm wkt bsamaan. Kelemahan yg membuatny tampak sangat wajar meski terkadang membuat loup kesal. Tp loup tdk mengatakan apapun, tidak memburu-buru vanda, karena vanda akan sangat marah kalau loup mengganggu konsentrasinya. Tubuh loup sudah terasa nyeri karena pukulan vanda tadi. Dan Loup terlalu penasaran dengan huruf-huruf tadi.

Setelah beberapa menit berlalu. Vanda meletakkan penanya, dan menunjukan barisan huruf yg br saja ditulisnya 'apakah kau mengerti?' vanda bertanya krn loup yg pintar pasti bisa lebih cepat merangkai kata dr pd dirinya. Loup melihat dgn keseriusan yg tinggi, vanda hampir tertawa melihatnya. 'gerbang cahaya itu ada percayalah pd hatimu'. Vanda tertegun mendengarnya 'gerbang cahaya itu ada percayalah pd hatimu.. gerbang cahaya itu ada.. gerbang itu ada' dgn tiba2 dipeluknya loup 'gerbang ke kota itu ada loup. Ingatkah kau waktu pak londra memberikan buku ini untukku? Buku ini kuncinya.. puisi-puisi ini akan menuntun kita kesana.. ke gerbang menuju kota dimana matahari bersinar lama, tempat dimana bung astride masih mekar dengan sempurna”.

Loup hny bisa bengong, bingung hrs bereaksi sperti apa.Tiba2 vanda mlepaskan plukannya,lalu mmukul dahiny 'ini gawat loup' katanya. 'Eh...' cuma itu yg bisa diucapkan oleh loup. Vanda berkata dgn tdk sabar 'kalau gerbang itu benar2 ada. Brarti kt harus memecahkan petunjuk2 yg ada didalam buku ini. Ini artinya berpuluh2 batang lilin tothy. Gawat karena uangku sdh habis untk mmbeli lilin ini. Gawat.. ?' skali lg loup hanya bisa mnjwab 'ya gawat' smntara dadany berdebar dengan keras sampai-sampai ia berfikir vanda pasti bisa mendengarnya.”gawat” ulangnya lagi dengan pelan..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar