Selasa, 10 April 2012

Perpustakaan Pak Londra (9)

Sementara semua org berkerumun didepan perpustakaan, disalah satu lorong diantara gedung perpustakaan dengan gedung tua yang tidak terpakai tiga orang lelaki tampak asik berbincang2. Jika ada yang memperhatikan, mereka akan mengambil kesimpulan bahwa ketiganya sedang membicarakan perihal kematian pak londra. Suara-suara perbincangan disekitar mereka agak meredam suara ketiganya.

"sial...!" kata salah seorang pria bertubuh gempal dengan luka jelek diantara kedua alisnya "aku tidak melihat si gembel itu. Menurut kalian, apakah ia melihatku dengan jelas? Bagaimana klo ia menceritakan soal kunjunganku tepat sebelum pria tua itu mati?" katanya lg dengan nada kawatir.

"tenanglah..." kata pria didepannya. Ia tampak jangkung dengan mantel dan sepatu bootnya. Ditangannya tampak sebuah tato aneh, berupa lingkaran dengan segitiga ditengahnya. "tidak akan ada percaya perkataan seorang pemabuk. Dan andaikan ia melihat, ia tidak akan mengenalimu. Kau memilih waktu yang tepat untuk masuk kedalam prpustakaan itu" suara pria jangkung itu aga menenangkan pria bercodet, meskipun sisa2 kekawatiran masih tampak jelas dari caranya mengusap2 bekas lukanya. Pria jangkung itu kembali berkata sambil mengacungkan jari telunjuknya ke muka pria bercodet yang tampak semakin gugup "yg kukawatirkan sekarang adalah, apakah racun yg kau berikan bekerja dengan cukup cepat? Akan sangat sial bagi kita kalau lelaki tua itu masih mampu meninggalkan petunjuk, sekecil apapun bagi gadis itu?".

Yang ditanya hanya bisa menggaruk2 kepala botaknya sambil berusaha mengingat2 keampuhan racun yg sudah sering kali dipakainya untuk membunuh tikus2 pengganggu sejak 5 tahun lalu. Racun yang diraciknya sendiri dengan menggunakan tanaman beracun poritte ditambah sejumput ini dan itu. Racun yang diuji cobakan pada salah seorang tetangganya yang memberikan luka jelek diwajahnya. Selama ini racun itu tidak pernah mengecewakannya. Tp pagi tadi ia terburu-buru dan sepertinya dosis yang diberikannya tidak cukup banyak untuk membunuh pria tua itu. Dan ia juga tidak memiliki waktu cukup banyak untuk menunggui pria tua itu meregang nyawa. Pengemis brengsek, makinya dalam hati. Tp ia tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya pada kedua pria didepannya ini. Pria2 itu bisa lebih kejam darinya, dan ia takut memikirkan balasan atas kecacatan dalam tugasnya. "aku meninggalkannya dalam keadaan tidak bergerak" katanya berbohong. "bisa saja ia berpura2, tp aku ragu ia punya waktu untuk memberikan petunjuk pada gadis itu. Bagaimana kalau kau tanyakan pada wanita penyidik itu vorten, bukankah kau mengenalnya?" kali ini ia berkata pada pria satu lagi. Pria dengan aura berkuasa.

Pria yang bernama vorten hanya mengangguk2. Katanya dengan nada dingin "aku memang berencana mengajak nyonya brein untuk makan malam, akan kutanyakan padanya. Dan jika jawabannya mengecewakan, maka kawanku yang baik... Harus menyelesaikan masalah ini dengan sangat segera". Sambil mengibaskan mantelnya, ia berbalik meninggalkan dua pria dibelakangnya. "tenanglah kawan, tidak akan ada jawaban yang mengecewakan. Tidurlah.. Mungkin malam ini ada tugas baru menantimu" si pria jangkung menepuk2 bahu pria bercodet dengan gaya menenangkan. Lalu melangkah pergi menuju utara, meninggalkan pria bercodet dalam kegelisahan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar