Vanda bergegas pergi ke rumah Loup dan
menceritakan perihal tadi pada sahabatnya yang kurus itu. Tak hanya Loup,
keluarga Loup yang sedang berkumpul di dapur -tempat mereka sarapan bersama-
juga ikut mendengarkan. Pak Morano menelepon petugas penjaga keamanan kota
untuk memastikan kebenaran cerita Vanda. Loup mengajak Vanda ke lapangan
Voltren. “Siapa tahu disana kau lebih tenang” ujar Loup.
Vanda tak mau pulang ke rumah, ia takut ibunya khawatir. Ibunya memang terlalu sayang pada Vanda, sampai-sampai jika ada hal kecil saja yang tak sesuai, Ibunya pasti menangis cemas. Apalagi ia tadi pagi tak pamit pada ibunya.
“Vanda, mereka mencarimu” seru gisham lalu jatuh telentang terengah-engah berbaring disisi Vanda. Wajar saja mengingat gisham telah berkeliling desa mencari Vanda yg akhrnya ditemukan sedang asik bersama Loup. Siapa mereka Gres? Tanya Vanda sambil lalu. “Penjaga kemanan kota.” kata Gisham segera, kembali mengingat tujuan semula. Sementara itu Loup dan Vanda saling berpandangan. Vanda baru saja menceritakan pada Loup tentang Pak Londra. Gisham meneruskan kalimatnya. “Penjaga kemanan kota mencarimu karena Pak Londra tewas, dan ada yang melihat kalau kau, pagi ini adalah orang terakhir yang keluar dari perpustakaan. Apakah tadi kau bertemu dengannya?” Ternyata Gisham tidak datang sendiri, meyusul dibelakangnya beberapa orang dengan seragam biru tua. Gisham berusaha bangkit. “Aku harus kembali ke rumah, tugas aritmatikaku belum selesai, dan kau telah berjanji untuk membantu. Kutunggu kau dirumah, nanti”.
“Terimakasih atas informasinya Gres, aku akan segera kesana”. mata Vanda memandang tajam berkeliling. Ia ada di sini. di lapangan Voltren bukan karena ingin melarikan diri dari pertanyaan-pertanyaan petugas penjaga keamanan kota, tapi karena ia ingin menceritakan dulu pada sahabatnya apa yang ia temukan di perpustakaan dan Pak Londra. Tergesa-gesa, Vanda telah menaruh buku bersampul coklat itu di kotak pos nyonya Kiring yang sudah berkarat karena memang jarang digunakan. Nyonya Kiring bukan orang yang suka bersosialisasi, apa lagi beresponden.
Kepergian Gisham dilanjutkan dengan kedatangan penjaga keamanan kota. Loup menyenggol bahu Vanda, yang dimaksud hanya duduk diam, tidak melakukan apapun. Penjaga keamanan kota itu ada tiga orang dan salah satu diantaranya seorang wanita berwajah kusam dengan wajah manis dibuat-buat saat memanggil Vanda dengan nada suaranya yg sama sekali tidak lembut.
“Vanda Wismollin?”, tanyanya sambil mengambil tempat duduk di samping Vanda, Vanda menatap lurus-lurus. “Ya”, jawabnya pendek. Loup sudah akan bangkit meninggalkan jejaknya pada rumput basah disamping Vanda saat tangan Vanda menariknya pelan. “Kami mendapat telepon di bagian darurat pada pukul enam tiga puluh dua tadi, tercatat dari Loup anak tuan Mornano yang melaporkan bahwa temannya Vanda menemukan keanehan pada pustakawan Londra tadi pagi, yang diduga adalah kematian”. Vanda mengangguk, “Ya, saya Vanda, yang menemukan Pak Londra tadi pagi. Benarkah ia ...”, Vanda yang tadinya mencoba menjawab tegas tanpa bisa dikendalikan gemetar saat menanyakan kebenaran tentang Pak Londra.
Perempuan berseragam biru tua itu menatap Vanda tanpa emosi dan mengabaikan pertanyaannya. “Penyebabnya belum dapat kami pastikan, kami masih menunggu laporan resmi dari petugas kesehatan kota. Yang jelas kami membutuhkan informasi dari saksi mata yang melihat keadaannya tadi pagi”, lanjutnya “Dan kami mengharapkan kerjasamamu. Kami harap kau menjawab pertanyaan kami dengan sejujur-jujurnya".
"Apakah kau menemukan Pak Londra di kursi itu?" tanya sang Penjaga keamanan kota satunya lagi sambil menurunkan kacamatanya ke ujung hidungnya yang tidak begitu mancung. "Ya," jawab Vanda. Tapi aku begitu takut jadi langsung keluar ruangan. Aku tak pernah melihat may.. err orang meninggal sebelumnya. Aku langsung ke rumah temanku, Loup. Saya pikir orang tua Loup lah yang menelepon kalian dan memberitahukan segalanya. Saya telah menceritakan semua pada keluarga Loup. Apakah saya harus menceritakannya lagi?" kicau Vanda sambil bergidik ketakutan. Melihat wajah Vanda yang pucat, penjaga keamanan itu berkata "Tidak usah , sayang. Semua sudah kami catat. Apakah kau bersedia ditanya lagi ketika dibutuhkan?” petugas itu memasukkan pensilnya kedalam saku. “Menurut dugaan sementara petugas kesehatan, Pak Londra meninggal karena serangan jantung. Sungguh kasihan kau melihatnya seperti itu. Mari kuantar pulang. Tapi sebelumnya ada beberapa hal yang harus kutanyakan." lalu ia melanjutkan "Apakah kau dekat dengan Pak Londra? Karena sepertinya ia menunggumu. di mejanya ada daftar buku yang pernah kau pinjam dari perpustakaan ini. Terlihat kau rajin membaca. Memang bukan hanya kau, tapi beberapa daftar pinjaman lain teronggok di meja pak Londra."
"Ada beberapa benda lagi di atas meja itu. Masih ada sekarang. lihatlah, apakah ada yang kau kenali?" tanya wanita itu setelah mengeluarkan beberapa lembar gambar hasil photo polaroid dari tas dokumennya. Lembaran photo itu berukuran cukup besar sehingga Vanda segera mengenali bahwa itu adalah gambar-gambar yang diambil di perpustakaan Pak Londra. Vanda mengulurkan tangannya untuk meminta photo itu. Lembarannya yang masih agak lengket, artinya photo itu baru saja diambil.
Vanda menjawab “Yang ini pasti lelehan lilin toothy”, Vanda menunjukkan jari telunjuknya pada gambar kurva tidak berarturan diatas meja kayu. Kurva itu berwarna ungu. “Lalu ini beberapa kartu, gambar aneh, sepertinya kartu yang dipakai untuk meramal, ya?” Vanda yang tak pasti balik bertanya. “ Tapi ini semua terbalik. Eh, ini ternyata ada beberapa yang terbuka tapi kok tidak ada gambar di kartunya?. Lalu ini sebuah buku pegangan ibu hamil. Aku pikir itu saja. Mengapa kau bertanya padaku? Memangnya kau tidak dapat mengenalinya sendiri?" ujar Vanda polos.
Petugas itu mengangkat alisnya wajahnya melongo. Tak kiranya ia mendapat pertanyaan macam itu oleh gadis remaja yang nampaknya nakal ini. Ditepisnya hal itu lalu kembali bertanya. "Satu hal lagi, kami mendapat informasi, ada orang yang masuk ke perustakaan ini sebelum kau. Apakah kau bertemu dengannya? Tapi sepertinya tidak. Bapak tua yang mabuk itu tidak dapat dipercaya perkataannya. Ya sudah lah. penjaga keamanan kota disana akan mengantarmu pulang ke rumah segera. Terimakasih atas bantuannya." Cerocos ibu penjaga kemanan kota itu sendirian. Mungkin ia jengah berbicara dengan Vanda. “Terimakasih atas bantuan mu, Gadis muda! Nanti kau akan kami hubungi kembali jika ada kemajuan lebih lanjut.” Perempuan itu berbalik badan dan menggerakkan tangannya memberi kode pada koleganya untuk mengantarkan Vanda pulang.
Vanda tak mau pulang ke rumah, ia takut ibunya khawatir. Ibunya memang terlalu sayang pada Vanda, sampai-sampai jika ada hal kecil saja yang tak sesuai, Ibunya pasti menangis cemas. Apalagi ia tadi pagi tak pamit pada ibunya.
“Vanda, mereka mencarimu” seru gisham lalu jatuh telentang terengah-engah berbaring disisi Vanda. Wajar saja mengingat gisham telah berkeliling desa mencari Vanda yg akhrnya ditemukan sedang asik bersama Loup. Siapa mereka Gres? Tanya Vanda sambil lalu. “Penjaga kemanan kota.” kata Gisham segera, kembali mengingat tujuan semula. Sementara itu Loup dan Vanda saling berpandangan. Vanda baru saja menceritakan pada Loup tentang Pak Londra. Gisham meneruskan kalimatnya. “Penjaga kemanan kota mencarimu karena Pak Londra tewas, dan ada yang melihat kalau kau, pagi ini adalah orang terakhir yang keluar dari perpustakaan. Apakah tadi kau bertemu dengannya?” Ternyata Gisham tidak datang sendiri, meyusul dibelakangnya beberapa orang dengan seragam biru tua. Gisham berusaha bangkit. “Aku harus kembali ke rumah, tugas aritmatikaku belum selesai, dan kau telah berjanji untuk membantu. Kutunggu kau dirumah, nanti”.
“Terimakasih atas informasinya Gres, aku akan segera kesana”. mata Vanda memandang tajam berkeliling. Ia ada di sini. di lapangan Voltren bukan karena ingin melarikan diri dari pertanyaan-pertanyaan petugas penjaga keamanan kota, tapi karena ia ingin menceritakan dulu pada sahabatnya apa yang ia temukan di perpustakaan dan Pak Londra. Tergesa-gesa, Vanda telah menaruh buku bersampul coklat itu di kotak pos nyonya Kiring yang sudah berkarat karena memang jarang digunakan. Nyonya Kiring bukan orang yang suka bersosialisasi, apa lagi beresponden.
Kepergian Gisham dilanjutkan dengan kedatangan penjaga keamanan kota. Loup menyenggol bahu Vanda, yang dimaksud hanya duduk diam, tidak melakukan apapun. Penjaga keamanan kota itu ada tiga orang dan salah satu diantaranya seorang wanita berwajah kusam dengan wajah manis dibuat-buat saat memanggil Vanda dengan nada suaranya yg sama sekali tidak lembut.
“Vanda Wismollin?”, tanyanya sambil mengambil tempat duduk di samping Vanda, Vanda menatap lurus-lurus. “Ya”, jawabnya pendek. Loup sudah akan bangkit meninggalkan jejaknya pada rumput basah disamping Vanda saat tangan Vanda menariknya pelan. “Kami mendapat telepon di bagian darurat pada pukul enam tiga puluh dua tadi, tercatat dari Loup anak tuan Mornano yang melaporkan bahwa temannya Vanda menemukan keanehan pada pustakawan Londra tadi pagi, yang diduga adalah kematian”. Vanda mengangguk, “Ya, saya Vanda, yang menemukan Pak Londra tadi pagi. Benarkah ia ...”, Vanda yang tadinya mencoba menjawab tegas tanpa bisa dikendalikan gemetar saat menanyakan kebenaran tentang Pak Londra.
Perempuan berseragam biru tua itu menatap Vanda tanpa emosi dan mengabaikan pertanyaannya. “Penyebabnya belum dapat kami pastikan, kami masih menunggu laporan resmi dari petugas kesehatan kota. Yang jelas kami membutuhkan informasi dari saksi mata yang melihat keadaannya tadi pagi”, lanjutnya “Dan kami mengharapkan kerjasamamu. Kami harap kau menjawab pertanyaan kami dengan sejujur-jujurnya".
"Apakah kau menemukan Pak Londra di kursi itu?" tanya sang Penjaga keamanan kota satunya lagi sambil menurunkan kacamatanya ke ujung hidungnya yang tidak begitu mancung. "Ya," jawab Vanda. Tapi aku begitu takut jadi langsung keluar ruangan. Aku tak pernah melihat may.. err orang meninggal sebelumnya. Aku langsung ke rumah temanku, Loup. Saya pikir orang tua Loup lah yang menelepon kalian dan memberitahukan segalanya. Saya telah menceritakan semua pada keluarga Loup. Apakah saya harus menceritakannya lagi?" kicau Vanda sambil bergidik ketakutan. Melihat wajah Vanda yang pucat, penjaga keamanan itu berkata "Tidak usah , sayang. Semua sudah kami catat. Apakah kau bersedia ditanya lagi ketika dibutuhkan?” petugas itu memasukkan pensilnya kedalam saku. “Menurut dugaan sementara petugas kesehatan, Pak Londra meninggal karena serangan jantung. Sungguh kasihan kau melihatnya seperti itu. Mari kuantar pulang. Tapi sebelumnya ada beberapa hal yang harus kutanyakan." lalu ia melanjutkan "Apakah kau dekat dengan Pak Londra? Karena sepertinya ia menunggumu. di mejanya ada daftar buku yang pernah kau pinjam dari perpustakaan ini. Terlihat kau rajin membaca. Memang bukan hanya kau, tapi beberapa daftar pinjaman lain teronggok di meja pak Londra."
"Ada beberapa benda lagi di atas meja itu. Masih ada sekarang. lihatlah, apakah ada yang kau kenali?" tanya wanita itu setelah mengeluarkan beberapa lembar gambar hasil photo polaroid dari tas dokumennya. Lembaran photo itu berukuran cukup besar sehingga Vanda segera mengenali bahwa itu adalah gambar-gambar yang diambil di perpustakaan Pak Londra. Vanda mengulurkan tangannya untuk meminta photo itu. Lembarannya yang masih agak lengket, artinya photo itu baru saja diambil.
Vanda menjawab “Yang ini pasti lelehan lilin toothy”, Vanda menunjukkan jari telunjuknya pada gambar kurva tidak berarturan diatas meja kayu. Kurva itu berwarna ungu. “Lalu ini beberapa kartu, gambar aneh, sepertinya kartu yang dipakai untuk meramal, ya?” Vanda yang tak pasti balik bertanya. “ Tapi ini semua terbalik. Eh, ini ternyata ada beberapa yang terbuka tapi kok tidak ada gambar di kartunya?. Lalu ini sebuah buku pegangan ibu hamil. Aku pikir itu saja. Mengapa kau bertanya padaku? Memangnya kau tidak dapat mengenalinya sendiri?" ujar Vanda polos.
Petugas itu mengangkat alisnya wajahnya melongo. Tak kiranya ia mendapat pertanyaan macam itu oleh gadis remaja yang nampaknya nakal ini. Ditepisnya hal itu lalu kembali bertanya. "Satu hal lagi, kami mendapat informasi, ada orang yang masuk ke perustakaan ini sebelum kau. Apakah kau bertemu dengannya? Tapi sepertinya tidak. Bapak tua yang mabuk itu tidak dapat dipercaya perkataannya. Ya sudah lah. penjaga keamanan kota disana akan mengantarmu pulang ke rumah segera. Terimakasih atas bantuannya." Cerocos ibu penjaga kemanan kota itu sendirian. Mungkin ia jengah berbicara dengan Vanda. “Terimakasih atas bantuan mu, Gadis muda! Nanti kau akan kami hubungi kembali jika ada kemajuan lebih lanjut.” Perempuan itu berbalik badan dan menggerakkan tangannya memberi kode pada koleganya untuk mengantarkan Vanda pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar