Selasa, 10 April 2012

Prolog

“Loup, sudahkah kau tulis bagian awalnya? Tulislah, biar aku yang melanjutkan.” Pinta Vanda pada sahabat karibnya. “Ah, kau!” Loup berurasa menepis topik. “Kau tak tahu lagi hendak kemana, sedangkan diriku yakin akan hal itu.” “Aku hanya berusaha. Kulanjutkan berjalan melewati tepian sungai bening dimana ikan-ikan kecilpun terlihat dengan jelas.” Seru Vanda sambil bergumam tak jelas. “Tapi kau harus keluar dari lamunanmu. Semua itu membuat mu hidup hanya di alam khayalmu, Vanda! Sesekali kita harus turun dan melakukan semuanya sendiri.” Loup tak mau mengalah dengan kata-kata Vanda. Tapi Vanda tak peduli ia lalu meneruskan membaca temuannya. “Dengar ini, Loup! Tertulis disini, bahwa pintu akan terbuka dengan sendirinya pada mereka yang bernurani besar dan berhati bersih. Keinginan yang besar akan membawanya kedepan gerbang dunia yang tak pernah gelap.”

Tubuh kecil kurus Loup bersandar pada sebatang pohon mati. “Aku sepenuhnya percaya denganmu bahwa portal itu bisa saja ada, tetapi kita belum menemukan bukti kuat untuk mengemukakan ke orang-orang. Vanda, duniamu itu sungguh berbahaya. Yang kau pikirkan itu dapat membuat orang-orang sini kehilangan jati dirinya. Mereka sudah terbiasa dengan yang ada. Jangan dulu kau hancurkan mereka.” Kembali Vanda bersikeras, “Yang bisa kukatakan hanyalah mereka telah menjadi orang dewasa. Itu sebabnya mereka tidak percaya,tidak mau percaya tepatnya. karena itu tidak akan ada portal, tidak akan ada apapun untuk mereka”
Sepotong percakapan itu tetap tergiang di benak Loup. Vanda, sahabatnya sedari kecil yang dulu selalu bermain Tali hurquins bersama di halaman belakang rumahnya, sekarang telah berubah menjadi wanita yang keras kepala. Kunjungannya ke perpustakaan Pak Londra di pojok kota Hagitsra, telah mengubahnya beberapa bulan belakangan. Ia sangat tertarik akan sajak-sajak kono yang ia temukan dari teka teki di buku dongeng anak-anak. “Buku itu datang kepadanya” ingat Loup. Dan ia adalah orang pertama yang diberi tahu tentang arti dibalik sajak itu. Beberapa ramalan di sajak itu telah terbukti benar. Sekarang sajak kuno itu membahas tentang dunia lain, yang tak pernah gelap.

Hagistra adalah kota terpencil dimana malam lebih banyak dari siangnya. Kota ini membutuhkan sinar matahari lebih lama untuk membuat penduduknya bersemangat untuk bekerja, Kota ini membutuhkan sinar matahari untuk membuat penduduknya sehat, lepas dari wabah wedh yang sebentar lagi akan mengubur sejarah kota ini dengan kematian anak-anaknya. Sekarang, impian Vanda mendapat secercah cahaya penuntun. Sebuah portal magis yang membuka jalan menuju Morps, kota yang tak pernah gelap.

Tapi tak semua pihak menginginkan sinar matahari. Banyak yang mengambil keuntungan dengan gelapnya Hagistra. Dan mereka tak ingin itu sirna hanya dengan harapan seorang bocah remaja. Vanda yang periang  memberi tahukan temuannya itu pada semua orang. tak ada yang menanggapinya dengan serius. Hampir tak ada kecuali Loup, sahabatnya dan orang-orang yang sengaja menjaga kegelapan di Hagitsra. Mereka tak akan tinggal diam. Isu itu terlalu tajam untuk mereka lewatkan. Vanda dan khayalannya harus lenyap dari Hagistra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar