Selasa, 10 April 2012

Perpustakaan Pak Londra (1)

Pak Londra adalah seorang laki-laki berperawakan tambun yang mulai bungkuk. Rambutnya berwarna keabu-abuan mulai rata oleh uban yang hanya menutupi bagian samping dan belakang kepalanya. Sedangkan bagian atasnya hanya ada kulit kepala yang putin bersih bersinar, tak ubahnya para profesor ahli roket. Hidung Pak Londra yang besar menyangga kacamata bulat berlensa bifokal, tempat ia menyembuyikan mata rabunnya. Kecerdikannya tampak jelas di matanya yang berwarna ungu gelap.

Pak Londra sangat baik. Tiap awal gelap, yaitu setelah waktunya makan siang, ia selalu membuka perpustakaannya untuk umum. Banyak anak-anak yang datang untuk meminjam atau membaca buku dongeng dan halaman bergambar yang penuh warna. Kadang Pak Londra sendiri yang membacakan dongeng itu pada anak-anak sehingga mereka jatuh dalam alam dongeng yang tak ada habisnya.

Perpustakaan itu terletak di sebuah gedung tua gelap diantara pepohonan dan suasana tepi jalannya yang sangat sunyi. Lantainya berlapis karpet merah marun lapuk dan dindingnya dihiasi lukisan-lukisan para penulis ternama dari zaman ke zaman. Vanda tertarik pada tempat itu karena ia ingin mengetahui sedikit tentang dongeng. itu saja-awalnya. Sampai ia menemukan sebuah buku sajak bersampul kulit coklat tua di tepi kakinya saat hendak mengembalikan buku dongeng putri duyung berkaki tujuh ke rak-nya. Penuh rasa ingin tahu dibawanya buku itu ke meja baca. Dibukanya sampul coklat itu perlahan dan ternyata isinya sajak-sajak kuno. Tidak begitu mengerti tentang sajak, dibukanya kertas-kertas itu sambil lalu. Kemudian menutupnya dengan bosan.

Baru ia akan berdiri menuju meja Pak Londra untuk mengembalikan buku itu, seketika sebuah suara berat bertanya “Kau bisa melihat apa yang tertulis disana?”. Ternyata tadi adalah suara Pak Londra. Vanda menatap heran – tentu saja. Dengan mata penuh binar Pak Londra menatap Vanda lalu duduk di sampingnya. “Buku itu memilihmu. Buku itu datang padamu untuk dibaca.” Vanda mengerutkan kening kebingungan, dilihatnya lagi sampul buku itu, ternyata tidak ada judulnya. “Memangnya buku apa ini?” Tanyanya. Pak Londra kembali menatap Vanda dalam-dalam dan ada secercah pengharapan disana. “Jalan menuju kota yang tak pernah gelap”, ujar Pak Londra kemudian.

Terkadang Pak Londra tampil seperi petapa, tua, bungkuk dan berjangggut putih. Tapi kali ini nampaknya ia baru saja mengunjungi Ralph, tukang cukur langganannya sehingga ia tampak beberapa tahun lebih muda. Wangi kolonye tercium damai dari dagunya. Vanda selalu terbayang wujud kakek, bapak dari ibunya. Ia tak pernah bertemu dengan kakeknya. Kini, ia mendapat sosok Pak Londra sangat mirip dengan kisah-kisah yang diceritakan oleh ibunya dikala sebelum tidur. “Kakek sangat baik dan ramah pada semua orang. Dulu ia bekerja sebagai tukang kayu di Hagitsra. Dikala senjangnya Kakek membuatkan layang-layang untuk anak-anak kecil. Mereka bermain bersama di gurun rumput Roswelyn dimana rumah batu kakeknya berdiri dengan kokoh diantara lapangan rumput segar dan bunga Astride yang bertebaran” bisik ibunya yang mengantarkan Vanda kecil tidur. “Apa dulu siangnya lebih lama, Bu? Apa dulu banyak bunga yang mekar di musim semi?” tanya Vanda pada ibunya. “Tentu, sayang!” sahut ibunya cepat. “Kakekmu adalah generasi terakhir yang menikmati siang lebih dari lamanya tiga batang lilin tothy  .”

Vanda tau lilin tothy  tidak lagi digunakan pada masa sekarang. Sekarang di Hagistra sudah tidak ada lilin tothy. Orang lebih suka membeli lentera minyak yang nyalanya dapat jauh lebih lama dari lilin tothy. Apa lagi lilin tothy  selain mahal juga hanya bertahan sebentar. Mungkin hanya sewaktu dengan jika kau memasak sepanci air sampai mendidih. Tapi lilin tothy  sangat indah nyalanya dan juga wangi. Wangi itu berasal dari Bunga Astride yang banyak mekar di Hagistra kala itu. Kini pun bunga itu jarang sekali ada yang mekar. Bunga itu membutuhkan cahaya matahari untuk hidupnya.

“Jadi dulu kakek bisa membaca di halaman rumah tanpa lentera?” kembali Vanda kecil bertanya. Ibunya mengangguk dengan pandangan bulat penuh kasih padanya. “Kelak nanti kau akan mengalaminya kembali, dimana bunga Astride dengan anggunnya mekar diseluruh tanah Hagistra. Sekarang pejamkan matamu, besok sekolah.” Sambil mengecup kening Vanda, ibu kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapannya esok.

Lamunan Vanda disadarkan oleh pertanyaan yang terdengar diulang. “Kau bisa melihat apa yang tertulis disana?” kembali Pak Londra bertanya padanya. Vanda menggeleng. “Memangnya ada apa didalamnya? Hanya berisi sajak yang tak kumengerti. Aku lebih paham sajak cinta pengamen di pasar. Kata-katanya mudah dicerna. Bisanya mereka bercerita tentang kekasihnya yang pergi ke medan perang, atau tentang cinta yang tak kesampaian.” Belum juga menarik nafas, Vanda melanjutkan “Sedangkan di sajak ini semuanya tak beraturan, kadang bercerita tentang manusia, lalu pindah tentang cinta, dan melompat jauh tentang Tuhan. Aku tak begitu mengerti.” Vanda menarik nafas. “Siapakah yang menulisnya? Mengapa tak ada judul di sampulnya? Adakah yang pernah membacanya dan mengerti?”

Pak Londra sangat hapal sikap Vanda yang selalu tidak puas dengan apa pun. Ia akan selalu bertanya tentang hal yang tak dimengertinya. Pak Londra sering kewalahan menjawab. Karena ia memiliki banyak buku di perpustakaannya, Vanda sering mengira Pak Londra tahu akan segalanya. “Jika kau sungguh terarik, bawalah buku itu pulang, mungkin kau dapat membacanya diwaktu senggang. Tapi jangan kau lupakan pelajaranmu. Mungkin sudah waktunya kau membaca buku selain dongeng bocah yang selalu kau pinjam dariku. Kau sudah remaja sekarang. Mungkin diluar saja ada remaja lelaki yang menunggumu keluar dari perpustakaanku yang pengap ini dan membawa seikat bunga untuk mengajakmu berdansa di hari ulang tahun kota ini minggu depan.” Goda Pak Londra. Muka Vanda bersemu merah karena malu. Tanpa menggubris godaan Pak Londra ia memasukkan buku tanpa judul itu ke tas pundaknya dan berlari ke arah pintu keluar. “Terimakasih Pak Londra! akan kubaca buku ini dirumah. Ku berjanji tak akan merusaknya. Sepertinya buku ini mahal, melihat dari sampul kulitnya.” Setengah berlari ia melangkah keluar meninggalkan Pak Londra yang tertawa terpingkal-pingkal mengodanya sampai terbatuk ketika ia melewati pintu utama perpustakaan itu.

Remaja lelaki apa? pikir Vanda. Ia tidak seperti remaja perempuan seumurnya yang pandai bersolek dan memakai gaun yang indah di sore hari. Ia terbiasa dengan celana panjang dan kaus buatan Ibunya yang berwarna mencolok, dimana ia dapat menempelkan kata yang ia inginkan. Kali ini ia menggunakan kaus kuning dengan emblem huruf yang berkata: S-I-N-A-R.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar