Selasa, 10 April 2012

Perpustakaan Pak Londra (2)


Sementara itu dari balik kios buah, ada dua pasang mata yang mengawasi langkah Vanda keluar dari perpustakaan. Mereka telah berada disana selama hampir dua bulan lamanya. Kios buah itu tak pernah ada pembelinya karena buah yang dijualnya tidak begitu segar dan penjualnya yang tak acuh. Penjual itu pun tak ambil pusing. Ia memang ia tak berniat mencari pelanggan. Lokasi kios itu dibelinya dari seorang pemabuk yang bangkrut, yang kebetulan tepat menghadap pintu perpustakaan, sehingga ia dapat melihat siapa saja yang keluar masuk gedung itu. Si penjual buah dan kawannya mendapati tas Vanda yang kini mengembung penuh, tak seperti dikala ia masuk. Ia yakin buku sajak bersampul kulit coklat itu kini ada di dalam tas tersebut. Buku itu terlalu besar untuk buku dongeng atau kisah asmara yang biasa dipinjam oleh remaja seperti Vanda.

Si penjual mengangguk pada kawannya. Ia memberi kode untuk menguntit Vanda pergi. Segera kawan penjual itu melangkah terburu-buru. Tapi baru dua langkah kegaduhan terdengar. Ia baru saja menabrak seorang ibu gemuk dengan penuh belanjaan dan menjatuhkan semuanya kelantai. Ibu itu marah dan memegangi jaketnya sehingga ia tak dapat melangkah. Ibu itu menyuruhnya membantu mengambil belanjaannya dan mengganti telur angsanya yang pecah akibat ditabrak tiba-tiba oleh kawan si penjual buah. Kawan si penjual buah dengan malas memungut sayur els dan roti pita milik si nyonya pemarah itu sambil mencari-cari sosok Vanda yang telah menghilang di keramaian jalan. “Sial!” umpatnya.

Vanda melangkah riang sambil bersiul menuju Lapangan Voltren, dimana ia yakin saat itu sahabatnya sedang bermain bola korgi bersama dengan kawannya yang lain. Vanda tak sabar ingin memberitahukan Loup apa yang ditemuinya di perpustakaan pak Londra.

Loup menyilangkan kakinya di pinggir lapangan, berharap sebentar lagi bagiannya bermain bola korgi, sebab semakin sore langit semakin gelap dan tepat ketika makan malam membuat air liurmu terbit, gulita sudah menyelimuti Hagitsra. Pemandangan delapan remaja berlari mengejar pelari sambil menerka-nerka yang manakah dari mereka yang merupakan pengumpat, – yaitu orang yang membawa bola korgi kecil di tangan yang terkepal – merupakan pemandangan yang dapat dilihat setiap hari di lapangan Voltren. Permainan itu sama populernya dengan Karenlina. Wanita cantik bertubuh molek yang mampu memberi gosip macam apapun tentang dirinya setiap hari tanpa sekalipun berfikir bahwa orang akan bosan mendengarnya.

Dari jauh dilihatnya bayangan berjalan riang sambil bersiul-siul menuju lapangan yang agak lembap. “Vanda”, pikir Loup, matanya sekarang teralih pada seorang pelindung yang mendorong jatuh pemain lawan entah untuk melindungi pengumpat atau raja. Yang jelas pihak musuh sekarang mencurigai Walter sebagai orang yang cukup penting, entah pengumpat atau raja, melihat perawakannya yang langsing dan lincah kemungkinan besar ia adalah pengumpat, tapi tidak mustahil bahwa ia adalah raja. Vanda mendekat dengan kaus kuningnya yang mencolok mata – bahkan dalam gelap seperti ini. Vanda mengambil tempat disamping Loup, rumput basah menyapu bagian belakang celana longgarnya.

“Loup! aku punya sesuatu untuk kau lihat!” ujar Vanda tanpa basa basi. “Hai, Vanda!” sapa Loup. Lelaki mana yang membuatmu berseri seperti itu? Apa Si Luthe yang pintar geometri lagi atau kali ini Jon, anak baru yang tampan? Vanda mengacuhkan pertanyaan sahabatnya. Vanda tahu bahwa Loup hanya mengejeknya. Tak mungkin Si Pintar Luthe mengajaknya ke pesta dansa, apa lagi Jon Si Tampan dari Becshire, kota besar yang maju, dimana tidak ada lagi tukang pedati membawa rumput untuk ternaknya.

Jon dan Luthe sangat populer di sekolah. Vanda pun sempat suka pada keduanya – siapa yang tidak? – tapi tak sampai bermimpi bahwa salah satunya akan mengajaknya minum di kantin, apa lagi ke pesta dansa. Vanda terkenal dengan sebutan gadis aneh di sekolahnya. Sebutan itu Vanda tak salahkan. Dikala sedang musim rambut kepang, Vanda mengurai rambutnya. Dikala musim tas anyaman tikar, Vanda malah bangga dengan tas pundak peninggalan pamannya ketika berdinas di ketentaraan. Walau tas itu tak pernah ikut berperang, tapi Vanda merasa gagah memakainya. Gagah, bukan anggun.

Vanda memang dikenal jarang bermain dengan perempuan sebayanya. Ia malah lebih sering bermain bersama Loup dan kawan-kawan laki-laki lainnya. Bermain bola korgi di lapangan Voltren, adalah salah satu kegemarannya. Tapi sejak beranjak remaja, Vanda mengurangi waktunya untuk bermain di lapangan itu. Ia lebih suka membaca dongeng-dongeng, terutama dongeng dari buku-buku yang dipinjamnya di perpustakaan Pak Londra.

“Kau belum dapat giliran, Loup?” tanya Vanda. Loup menggeleng. “Tubuhmu terlalu kurus! itu sebabnya mereka tak mengajakmu. Larimu pun tak lebih kencang dari anak perempuan seperti aku.” Vanda balas mengejek sambil mencabut rumput jarum lalu menghisapnya. Rumput jarum disukai Vanda karena rasanya sedikit manis bila dihisap. “Aku tidak terlalu kurus! Aku hanya kurang gemuk sedikit.” umpat Loup. Lagi pula mereka baru mulai, dan aku terlambat sampai disini, jadi aku harus menunggu salah satu dari mereka yang kelelahan.” “Tetap saja kau kurus, sampai angin pun dapat menerbangkanmu keluar dari Hagistra.” Vanda terpingkal berguling di rumput basah. Tinggal Loup yang menekuk wajahnya kesal.

Seraya seorang anak yang bernama Rochie menghampiri dengan nafas yang terengah. Dia duduk di antara mereka. Loup mengencangkan tali sepatunya bersiap beranjak masuk ke lapangan. “Hendak kemana kau Loup?” tanya anak itu. “Aku memang letih, tapi kawan-kawan yang lain ingin Vanda bermain bersama kita. Sudah lama Vanda tak mampir kesini. Ia terlalu sibuk dengan buku dongengnya. Selagi ia ada, hendaklah ia bermain.” Terlihat beberapa anak berdiri di kejauhan menunggu Vanda dilapangan sambil melambaikan tangannya. Sementara sisanya masih asik berlari kesana-kemari. Sambil menunjuk Vanda, Rochie tumbang rebah kelelahan. Tinggal Vanda dan Loup yang berpandangan. Wajah Loup terlihat kesal sedangkan wajah Vanda bersemu menahan tawa. “Jika kau tertawa, aku kan penuhi bajumu dengan rumput ini!” ancam Loup. Tawa renyah Vanda seketika tergelak seraya berdiri lalu berlari meninggalkan Loup yang sudah bersiap mengejarnya dengan sejumput rumput basah yang dicabutnya tadi. “Awas, kau Vanda!” teriak Loup mengejar Vanda yang masih berlari sambil tertawa. Rochie yang masih kelelahan itu bangkit lalu berteriak pada Loup dan Vanda yang menjauh. “Lalu siapa yang menggantikanku bermain?” Tanpa jawaban dari Loup dan Vanda, Rochie dengan malas masuk kembali ke lapangan. Berlari terengah mengejar lawan yang dikiranya sebagai pengumpat.

Vanda berlari meninggalkan lapangan kedalam hutan Kecil dimana burung Rangkong Merah bersarang di ujung pepohonannya yang  rimbun. Hutan Kecil terbelah oleh sungai Hunt dari hulunya di tengah hutan ke Hagistra dan bermuara di laut. Kelelahan berlari dikejar Loup, Vanda berhenti di tepian sungai Hunt untuk meraih air dengan telapak tangannya. Airnya yang jernih bergelombang ketika tersibak oleh sentuhan tangannya. Diminumnya air itu sedikit lalu digunakan untuk membasuh wajahnya yang penuh dengan keringat. Seketika datanglah Loup entah dari mana. Loup tak berhasil memperlambat larinya. Ia menabrak Vanda yang sedang membungkuk di tepian sungai. Sedetik kemudian mereka berdua sudah berada di air. Basah. Tawa pun kembali tergelak dari keduanya.

“Apa tadi yang ingin kau sampaikan padaku tadi?” tanya Loup sambil mengeringkan sepatunya yang basah bebatuan pinggir sungai. Bergidik kedinginan, Vanda berkata “Tadi aku ingin menunjukkan buku yang dipinjamkan Pak Londra kepadaku. Entah mengapa kurasa kau juga pasti akan tertarik. Namun sekarang buku itu basah tercebur bersama tasku. Kau harus bertanggung jawab. Kau harus mengeringkannya!” Vanda memercikkan air sungai ke muka Loup. “Mengapa aku? aku kan tak sengaja melakukannya!” bela Loup. Tapi Vanda telah menyerahkan tas itu padanya. Dan Loup pun menerimanya, sambil membuka tas itu dan mencari buku yang dibicarakan Vanda. Buku itu cukup besar untuk seukuran buku dongeng, apa lagi sajak. Buku itu seperti buku peta yang selalu dibawa Bu Noorlya ketika ia mengajarkan geografi di sekolah. Buku itu sangat mewah dengan sampul kulit coklatnya yang berkilau karena basah. Dan Loup langsung merasa bersalah.

“Baiklah, Akan ku keringkan buku ini dirumah, tapi apa yang ingin kau tunjukkan? Buku ini kosong, tidak ada tulisannya, bahkan judulnya pun tidak ada.” Vanda langsung menoleh “Jangan kau berlagak seperti orang suci lagi. Kau telah melakukan kesalahan dan harus bertanggung jawab. Mana mungkin kubawa buku berat itu jika tidak ada apapun didalamnya? Bilang saja jika kau malas mengeringkannya.” “Tidak, aku tidak berbohong. Buku ini memang tidak ada judul di sampulnya, dan tidak ada tulisan apapun di dalamnya” Loup terus berkata demikian sambil membalik-balik halamannya. Bajunya telah dilepaskan untuk diperas agar airnya keluar. Badan Loup yang kurus itu terlihat mengerikan bagi orang normal, Tapi Vanda sudah terbiasa melihatnya. Loup memang kurus sekali, pikirnya, tapi ia masih manusia, bukan gagang sapu.

Sambil mengibaskan rambut pendeknya, Vanda berkata “Memang benar, buku itu tak ada judul di sampulnya, itu salah satu yang membuatnya menarik. Tapi didalamnya ada sajak-sajak aneh yang tak kumengerti. Kupikir kau ingin membacanya. Ayahmu kan guru bahasa di sekolah. Tentu kau pernah membaca sajak semacam itu dari lemari buku ayahmu.” “Isi apa?” Tanya Loup. “Lihat sendiri halaman-halaman ini! Tak ada satu hurufpun didalamnya.” Vanda meninggikan lehernya untuk mencari tahu yang Loup katakan. Sejenak ia tak percaya akan kalimat Loup. Anak itu terlalu sering menggodanya. Tapi kali ini ia mencoba memejamkan matanya sekali lagi, dan mulai merasa mual. Ia yakin tadi di perpustakaan Pak Londra ia membacanya. Bahkan Pak Londra pun melihat ia membacanya seraya menawarkan buku itu untuk dibacanya dirumah. Jadi tak mungkin buku itu tidak ada isinya.

Vanda melangkah mendekat pada Loup. Ia usap permukaan halaman demi halaman buku itu. Kosong, pikirnya. Bagaimana mungkin? Benaknya kembali disuguhi pernyataan. Sementara Loup masih mengoceh tentang kebohongan yang dibuatnya. Walaupun dibesar-besarkan oleh Loup, Vanda diam tak melawan sedikipun tuduhan Loup. Ia tak tahu harus berkata apa. Ia sangat yakin tadi, beberapa saat sebelumnya di perpustakaan Pak Londra ia masih membaca sajak aneh di lembaran buku itu, lembaran halaman yang sama.

Masih basah kuyup, Vanda dan Loup berjalan pulang. Buku di tas Vanda terasa berat ditambah dengan kandungan air yang meresap. Ia menitipkannya di bahu Loup. Walaupun kurus, Loup tetap lebih kuat darinya. “Aku masih yakin buku itu tadi ada isinya.” seru Vanda. Loup menimpali dengan kelakar “Mungkin tintanya luntur terbawa air sungai.” Vanda memukul bahu Loup “Tak mungkin. Semuanya sangat aneh.” Mereka saling mengejek sepanjang perjalanan pulang. Tak lama kemudian sampailah mereka di gerbang perumahan Vont kota Hagistra. Jejeran rumah itu terlihat rapi seperti di permainan petak yang menggunakan 5 dadu untuk memainkannya.

Rumah Loup dan Vanda bersebelahan. Kakek Loup dan Kakek Vanda adalah sahabat karib semasa perang. Ketika perang usai mereka bersepakat untuk membeli sebidang tanah di komplek perumahan Vont lalu membangunnya bersama. Vanda dan Loup adalah keturunan ketiga yang tinggal dirumah itu. Rumah Vanda berwarna hijau oleh pohon Anggur yang merambat luas. Pohon  rambat itu sengaja dirawat oleh ayahnya sehingga menutupi bagian depan tembok rumahnya. Sedangkan rumah Loup berwarna merah, sesuai dengan bata yang digunakan untuk membangunnya. Didepannya tergeletak sepeda roda tiga milik adik sepupunya. Dan seember mainan pelastik yang basah karena hujan. Tandanya bibi Lisma dan Arka, sepupu Loup, sedang datang berkunjung.

Rumah Loup dicapai lebih dulu dibandingkan dengan rumah Vanda bila berjalan dari arah sungai. Sekarang mereka telah berada di depan rumah Loup. Vanda berpamitan dan meminta tas berserta isinya dikeringkan. Besok akan Vanda ambil kembali ketika bersama berangkat ke sekolah. Loup mengangguk setuju dan masuk ke halaman rumah bata merahnya. Ibunya muncul dipintu sambil berkacak pinggang. Loup tau ibunya marah karena bajunya basah dan kotor. Vanda mempercepat jalannya tak ingin dilihat oleh ibu Loup, nanti ia terkena omel juga, pikirnya.
Seampainya di rumah, Vanda mendapati rumahnya sepi. Mungkin ayah masih bekerja di toko ikan yang terletak tak jauh dari rumahnya. Ibu mungkin sedang mengajak adik-adiknya ke taman bermain. Karena kota ini hampir selalu gelap, hampir tak ada beda malam dan siang. Ia melirik jam peninggalan kakeknya yang selalu dibawanya. Jam itu basah. “Untung jam ini tahan air.” gumamnya. Jam telah menunjukkan pukul 7.30. waktunya makan malam, ia keheranan mengapa ibu dan ayahnya belum ada dirumah. Vanda langsung menuju kamarnya untuk mandi dan berganti baju. “Syukurlah kalo ibu tak ada, setidaknya aku bebas dari omelan, tak seperti Loup yang sial itu.” benak Vanda berbicara. Ketika ia di kamar mandi, terdengar keriuhan di bawah. Ibu dan adik-adiknya sudah pulang, dan adiknya ingin menjemput ayah di toko. “Ah, pasti ibu membawa kue kesukaannya.” pikir Vanda. Ia membasahi badannya dengan air pancuran. Hangat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar