Api di Lilin tothy yang sengaja
dinyalakan di ruang baca Pak Londra bergoyang terkena semilir angin. Angin itu
membuat wangi ekstrak bunga Astride menyeruak ke seluruh ruangan, membuat efek
damai bagi yang menciumnya. Wangi itu seperti wangi bunga Lavender bercampur
dengan mawar kuning kadang wangi lautan juga muncul dari hangatnya cahaya putih
lembut yang dipijarkan. Beda dengan nyala api di lentera minyak, api lilin
tothy tidak berwarna kuning, melainkan ungu terang yang tentram.
Cahayanya nyaman sekali jika digunakan untuk membaca buku. Terkadang muncul
percikan bunga api dari sumbu yang terbakar. Bunga api itu berwarna-warni,
seperti kembang api di malam perayaan ulang tahun Hagistra.
Pak Londra masih menyimpan satu peti besar Lilin tothy londra. Ia mendapatinya di ruang bawah tanah perpustakaannya bersama dengan berbotol-botol kristal anggur buatan moyangnya yang tersimpan dengan rapi di rak-rak kayu. Ia sengaja menyimpan lilin tothy untuk kepeluan khusus. Sekarang entah kenapa hati Pak Londra sangat riang sekaligus gundah. Ia membutuhkan cahaya tentram dan wangi tothy yang menenangkan. Diletakkannya lilin tothy itu di pojok ruangan, di atas meja bundar disebelah kursi bersandaran tangan yang empuk dan terbalut kulit rusa. Ia pun seraya duduk diatasnya sambil membuka buku yang berjudul “Semangat, Sinar dan Serumpun Asa”. Buku itu tampak tua dengan debu halus di antara lembaran-lembarannya.
Pak Londra masih menyimpan satu peti besar Lilin tothy londra. Ia mendapatinya di ruang bawah tanah perpustakaannya bersama dengan berbotol-botol kristal anggur buatan moyangnya yang tersimpan dengan rapi di rak-rak kayu. Ia sengaja menyimpan lilin tothy untuk kepeluan khusus. Sekarang entah kenapa hati Pak Londra sangat riang sekaligus gundah. Ia membutuhkan cahaya tentram dan wangi tothy yang menenangkan. Diletakkannya lilin tothy itu di pojok ruangan, di atas meja bundar disebelah kursi bersandaran tangan yang empuk dan terbalut kulit rusa. Ia pun seraya duduk diatasnya sambil membuka buku yang berjudul “Semangat, Sinar dan Serumpun Asa”. Buku itu tampak tua dengan debu halus di antara lembaran-lembarannya.
Pak Londra memiliki sangat banyak buku. Tiap malam sebelum tidur, ia selalu menyempatkan membaca satu buku yang dipilihnya secara acak dengan mencabut sembarang kartu katalog dari lacinya. Kali ini laci katalog itu memilihkan buku itu untuknya. Buku itu berisi tentang tuturan seorang ibu yang menunggu anak dalam kandungannya untuk dilahirkan ke dunia. Pak Londra tiba tiba menaruh buku itu dimeja. Diurungkan niatnya untuk membaca buku itu. Cahanya ungu lilin tothy menerangi sampulnya, memantulkan kata kata yang tertulis dari sampulnya; SEMANGAT – SINAR – ASA
Terbayang dibenak Pak Londra sosok riang Vanda tadi siang. Teringat pancaran mata bulat yang selalu penuh dengan pertanyaan. Pak Londra mulai tahu apa penyebab kegembiraan yang bercampur kegelisahannya itu. Kaus kuning Vanda tadi, S-I-N-A-R, Pak Londra melihatnya dalam ingatan. Pandangan mata itu, SEMANGAT, dan ASA nya untuk mendapat sesuatu yang lebih baik. Dan lebih dari itu, Vanda berkata bahwa ia dapat melihat isi buku itu, bahkan membacanya. Ia katakan padanya, buku itu berisi sajak yang tak dimengertinya. Sajak, ulangnya dalam hati. Seumur hidupnya Pak Londa menyimpan buku itu tanpa mengetahui isinya. Buku itu kosong, baik sampul maupun isinya. Ia tak tahu bagaimana buku itu bisa berada di perpustakaannya seperti kebanyakan buku yang ada disana. Ia sering bermimpi bahwa buku itu adalah penunjuk ke Kota yang tak pernah gelap. Selau terngiang di kepalanya bahwa buku itu berharga. Maka dari itu ia menyimpannya denganharapan suatu saat ia mengerti maksud dari mimpinya tersebut. Tapi ia ingat betul bahwa ia menaruhnya dengan rapi di ruangan kantor perpustakaan, bersama dengan buku-buku yang belum ia kumpulkan dengan subjek yang sama dengan buku lainnya. Buku itu ada di dalam lemari, di rak yang paling tinggi.
Bagaimana buku itu ada di Vanda? pikir Pak Londra. Ia selalu bilang ke anak-anak yang datang ke perpustakaannya, bahwa buku yang memilih pembacanya. Ia percaya itu. Tapi buku yang menghampiri pembacanya secara harfiah – terbang melayang ke pembacanya – tidaklah mungkin. Sambil berpikir, Pak Londra bangkit dan berjalan ke kantor perpustakaannya. Ia ingin memastikan apakah lemari itu rubuh, atau tak terkunci. Bagaimana buku itu sampai di tangan Vanda? Menepis pikiran anehnya Pak Londra mengira, mungkin buku itu memang terjatuh dari lemari lalu terbawa oleh anak-anak nakal yang suka mengoprek ruangan kantornya yang penuh lukisan.
Sesampainya di muka kantor, Pak Londra membuka pintunya yang berat. Ia mendapati ruang kantor itu rapi tak seperti bekas kedatangan sekelompok anak-anak nakal yang mengacak-acak atas mejanya. Tumpukan suratnya pun masih rapih tersusun diatas meja. Globe masih ditempatnya semula ketika ia menunjukkan letak kutub utara dan selatan pada Tim, anak sepupunya. Pandangannya beralih ke lemari temat ia menyimpan buku yang kini dibawa Vanda. Lemari itu kokoh dan tinggi terbuat dari kayu Elk yang terbaik yang pernah ia miliki. Karena lantainya agak miring, pintunya selalu terbuka dengan sendiri. Pak londa membeli kunci gembok agar lemari itu tertutup sedia kala. Terkejut Pak Londra ketika ia mendapati lemari itu masih terkunci dengan rapat. Ini mulai aneh, pikir Pak Londa sambil mengerenyitkan kulit dahinya.
Loup menghampiri Vanda
pagi-pagi sekali ketika ia sedang melepaskan kunang-kunang di taman belakang
rumahnya, matahari baru saja terbangun dari tidur pulasnya dan langit masih
keungu-unguan. Selapis embun mengusap kaki-kaki mereka yang telanjang.
“Maaf,” ujar Loup pelan,
nyaris tak terdengar tersaput angin yang membekukan tubuh. Dijatuhkannya tubuh
kurusnya dengan putus asa ke bangku taman, dijatuhkannya tas Vanda dan buku
coklatnya ke atas meja kayu taman yang terawat rapih, yang pada tiap kaki
mejanya ada sulur tanaman rambat hijau yang dikaitkan pada tepian luar atas
meja sehingga meja itu sendiri tidak terganggu si tanaman rambat. Vanda tidak
menoleh barang sedikitpun, perhatiannya terpusat pada kunang-kunang yang harus
ia lepaskan kembali ke habitatnya setelah semalaman membantunya menyinari
kamarnya, dan jam empat sore nanti ia harus menangkap lagi beberapa
kunang-kunang untuk menyinari kamarnya nanti malam.
“Kenapa?” tanya Vanda acuh tak acuh. “Benda itu!” tunjuk Loup dengan emosi agak berlebihan. “Buku itu sudah kukeringkan lembar demi lembar sampai aku kurang tidur! Aku menghabiskan dua kantung minyak simpananku yang seharusnya bisa kupakai untuk menerangiku untuk membaca sekitar lima hari. Dan itu berarti dua huper akan keluar dari uang saku mingguanku untuk membeli dua kantung minyak! Dan. Arrrghh!” Loup mengepalkan tangan, menarik napas dan memejamkan mata mencoba menenangkan diri. Dua puluh detik kemudian ia membuka mata dan menarik napas dalam-dalam.
“Kenapa?” tanya Vanda acuh tak acuh. “Benda itu!” tunjuk Loup dengan emosi agak berlebihan. “Buku itu sudah kukeringkan lembar demi lembar sampai aku kurang tidur! Aku menghabiskan dua kantung minyak simpananku yang seharusnya bisa kupakai untuk menerangiku untuk membaca sekitar lima hari. Dan itu berarti dua huper akan keluar dari uang saku mingguanku untuk membeli dua kantung minyak! Dan. Arrrghh!” Loup mengepalkan tangan, menarik napas dan memejamkan mata mencoba menenangkan diri. Dua puluh detik kemudian ia membuka mata dan menarik napas dalam-dalam.
“Intinya.. semua itu percuma. Buku itu tetap
enggan mengeluarkan tintanya. Tidak ada tanda-tanda tintanya luntur. Tidak..
tidak, aku.. tidak mengerti,” Loup mengerang putus asa. Vanda akhirnya - untuk
pertama kalinya sejak Loup duduk di bangku taman itu - menoleh. Matanya menatap
tanpa emosi sehingga Loup tak bisa menebak-nebak. Dan ternyata Vanda cuma
mengendikkan bahu. “Baiklah. Tidak apa. Bukunya kering?” Loup mengernyit heran
sekaligus kesal. Ia bicara panjang lebar dan penuh emosi sementara Vanda hanya
butuh bukunya kering. “Yeah,” loup memutar bola matanya.
Vanda mengangguk sambil tersenyum. Dibukanya botol plastik milik Loup untuk mengeluarkan kunang-kunangnya dan mendapati beberapa kunang-kunang hampir mati lemas dipelototinya sahabatnya itu. “Kali ini berapa lama kau memperbudak mereka?” Tanya Vanda galak. Loup kaget, tidak siap menghadapi pertanyaan tentang kunang-kunang. Semalaman cuma buku itu yang ada dalam pikirannya.
“E.. ng .. dua.. dua hari, ya dua.. Pasti, eh mungkin. Biasanya paling lama dua hari. Ya.. kemarin aku tidak memikirkan kunang-kunang, apalagi..” Vanda menatapnya makin galak.
“Baiklah. Aku tidak ingat,” Loup mengaku. Percuma membela diri saat salah di depan Vanda. Salah tingkah hanya membuat Loup terlihat makin salah -dan bodoh.
“Alasan!” makinya pendek. Ditutupnya lagi botol plastik yang sudah kosong. Vanda memang sudah sering mengingatkannya soal kunang-kunang itu. Vanda sendiri orang yang teratur melepas dan menangkap kunang-kunang itu. Ia menghargai kunang-kunang jauh lebih banyak dibanding hal-hal lain.
Baginya keberadaan mereka sangat penting, jangan sampai mereka punah karena ulah lalai orang seperti Loup. Punah seperti lilin tothy dan matahari. Vanda berbeda dari anggota keluarganya. Vanda hanya menggunakan lampu hidup sebagai penerang utamanya, tidak yang lain
Ia tidak menyukai lentera minyak. Menurutnya harga minyak terlalu mahal. Satu kantung minyak seharga 1 huper yang hanya mampu memberi penerangan selama kurang lebih tiga jam adalah pemborosan – dan terlalu mahal. Dengan harga seperti itu harusnya pemerintah daerah mampu mengusahakan cahaya yang layak bagi Hagistra yang sudah beberapa tahun ini dirundung kegelapan. 1 huper mungkin tidak mahal untuk keluarga Vanda yang setiap sore menjelang malam menyalakan lebih dari lima lentera minyak, tapi satu huper adalah kerja keras tukang taman harian yang diupah oleh ayah Vanda untuk bekerja di taman pribadi mereka selama dua hari.
Makanya lain bagi Vanda, lain pula pendapat keluarganya yang lain, mereka orang-orang yang menyukai rumah yang terang baik di dalam maupun di luar, entah karena kebutuhan atau karena gengsi. Ayah Vanda mampu membeli lebih dari lima belas kantung minyak setiap harinya; masing-masing untuk menerangi empat lentera minyak di tiap sudut rumah, satu di ruang tamu yang sekaligus bisa menerangi ruang keluarga mereka yang dekat perapian, satu untuk setiap kamar yang keseluruhannya ada tiga, karena gudang dan perpustakaan ayah tidak perlu lentera minyak dan kamar Vanda jelas tidak, dan satu di ruang keluarga, yang bisa dibawa ke kamar mandi – minus kamar mandi Vanda. Menurut Vanda itu benar-benar pemborosan, apalagi biasanya lentera minyak itu dinyalakan selama tiga sampai lima jam untuk yang di dalam rumah dan hampir delapan belas jam untuk yang tergantung di luar. Pemborosan luar biasa! Sampai-sampai Vanda sering berpikir mustahil ayahnya hanya bekerja sebagai pemilik toko ikan!
“Kau ada rencana apa hari ini?” suara itu memecah keheningan, mengembalikan Vanda dari pikirannya dan membawa dirinya kembali ke taman belakangnya yang membeku. “Ke perpustakaan” jawab Vanda cepat. “Aku ingin tahu kenapa tinta-tinta itu tidak ada, padahal kemarin aku melihatnya dengan jelas”, tambahnya sambil memasukkan buku bersampul kulit coklat yang kertasnya agak menggembung dan keriting karena air ke dalam tas-nya. “Kau sendiri?” Tanya Vanda yang sudah mengambil posisi meninggalkan taman untuk segera masuk ke rumah. Loup bangkit dengan tubuh lelah karena kurang tidur dan berjalan gontai membelakangi Vanda menuju rumahnya.
“Tidur”.
Vanda mengangguk sambil tersenyum. Dibukanya botol plastik milik Loup untuk mengeluarkan kunang-kunangnya dan mendapati beberapa kunang-kunang hampir mati lemas dipelototinya sahabatnya itu. “Kali ini berapa lama kau memperbudak mereka?” Tanya Vanda galak. Loup kaget, tidak siap menghadapi pertanyaan tentang kunang-kunang. Semalaman cuma buku itu yang ada dalam pikirannya.
“E.. ng .. dua.. dua hari, ya dua.. Pasti, eh mungkin. Biasanya paling lama dua hari. Ya.. kemarin aku tidak memikirkan kunang-kunang, apalagi..” Vanda menatapnya makin galak.
“Baiklah. Aku tidak ingat,” Loup mengaku. Percuma membela diri saat salah di depan Vanda. Salah tingkah hanya membuat Loup terlihat makin salah -dan bodoh.
“Alasan!” makinya pendek. Ditutupnya lagi botol plastik yang sudah kosong. Vanda memang sudah sering mengingatkannya soal kunang-kunang itu. Vanda sendiri orang yang teratur melepas dan menangkap kunang-kunang itu. Ia menghargai kunang-kunang jauh lebih banyak dibanding hal-hal lain.
Baginya keberadaan mereka sangat penting, jangan sampai mereka punah karena ulah lalai orang seperti Loup. Punah seperti lilin tothy dan matahari. Vanda berbeda dari anggota keluarganya. Vanda hanya menggunakan lampu hidup sebagai penerang utamanya, tidak yang lain
Ia tidak menyukai lentera minyak. Menurutnya harga minyak terlalu mahal. Satu kantung minyak seharga 1 huper yang hanya mampu memberi penerangan selama kurang lebih tiga jam adalah pemborosan – dan terlalu mahal. Dengan harga seperti itu harusnya pemerintah daerah mampu mengusahakan cahaya yang layak bagi Hagistra yang sudah beberapa tahun ini dirundung kegelapan. 1 huper mungkin tidak mahal untuk keluarga Vanda yang setiap sore menjelang malam menyalakan lebih dari lima lentera minyak, tapi satu huper adalah kerja keras tukang taman harian yang diupah oleh ayah Vanda untuk bekerja di taman pribadi mereka selama dua hari.
Makanya lain bagi Vanda, lain pula pendapat keluarganya yang lain, mereka orang-orang yang menyukai rumah yang terang baik di dalam maupun di luar, entah karena kebutuhan atau karena gengsi. Ayah Vanda mampu membeli lebih dari lima belas kantung minyak setiap harinya; masing-masing untuk menerangi empat lentera minyak di tiap sudut rumah, satu di ruang tamu yang sekaligus bisa menerangi ruang keluarga mereka yang dekat perapian, satu untuk setiap kamar yang keseluruhannya ada tiga, karena gudang dan perpustakaan ayah tidak perlu lentera minyak dan kamar Vanda jelas tidak, dan satu di ruang keluarga, yang bisa dibawa ke kamar mandi – minus kamar mandi Vanda. Menurut Vanda itu benar-benar pemborosan, apalagi biasanya lentera minyak itu dinyalakan selama tiga sampai lima jam untuk yang di dalam rumah dan hampir delapan belas jam untuk yang tergantung di luar. Pemborosan luar biasa! Sampai-sampai Vanda sering berpikir mustahil ayahnya hanya bekerja sebagai pemilik toko ikan!
“Kau ada rencana apa hari ini?” suara itu memecah keheningan, mengembalikan Vanda dari pikirannya dan membawa dirinya kembali ke taman belakangnya yang membeku. “Ke perpustakaan” jawab Vanda cepat. “Aku ingin tahu kenapa tinta-tinta itu tidak ada, padahal kemarin aku melihatnya dengan jelas”, tambahnya sambil memasukkan buku bersampul kulit coklat yang kertasnya agak menggembung dan keriting karena air ke dalam tas-nya. “Kau sendiri?” Tanya Vanda yang sudah mengambil posisi meninggalkan taman untuk segera masuk ke rumah. Loup bangkit dengan tubuh lelah karena kurang tidur dan berjalan gontai membelakangi Vanda menuju rumahnya.
“Tidur”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar