Selasa, 10 April 2012

Perpustakaan Pak Londra (3)


Sementara itu Loup dengan pakaiannya yang basah dan kotor terus menaiki tangga kayu melewati perapian menuju kamarnya di loteng. Perapian di ruang makan sungguh menggoda Loup untuk berhenti sejenak dan menghangatkan kaki dan tangannya yang nyaris beku karena udara dingin ditambah pakaiannya yang basah karena Vanda. Loup menutup pintu kayunya yang berat dan menyelotnya agar tak ada yang bisa masuk. Loup membuka baju dan celana basahnya dan menggantinya dengan piyama kering. Agak gelap di loteng, hanya ujung tempat tidur Loup yang agak terang karena diatasnya ditaruhnya lampu hidup berupa sepuluh kunang-kunang hidup yang dimasukkan kedalam botol plastik yang diberi lubang untuk para kunang-kunang bernafas. Loup lebih senang menggunakan lampu hidup sebagai penerang ketimbang lentera minyak, walaupun ia membutuhkannya malam ini.

Ia teringat buku Vanda yang basah dan harus dikeringkannya. Buru-buru diambilnya buku itu dari tas basah yang cuma digantung sembarang di depan jendela kamar, berharap angin bisa mengeringkannya esok pagi. Loup membuka buku bersampul coklat yang kosong itu, ditaruhnya dengan hati-hati diatas peti tua di pojok gelap ruangan. Diangkatnya lentera minyaknya dari meja kayu keropos berkaki pendek tempat Loup biasa membaca lalu menggantungkan kaitannya pada kawat yang sudah ada bahkan sejak jaman kakeknya kecil, kata ayahnya. Kawat itu ditarik kebawah agar lebih dekat ke bukunya, karena Loup butuh panasnya, bukan sinarnya. Lentera minyak itu kini bukan hanya menerangi buku dan peti tua, tapi juga seluruh kamar Loup. Sampai-sampai Loup bisa melihat sarang laba-laba di tepian atap loteng dekat tempat tidurnya.

Loup mengelus halaman pertama buku coklat itu. “Masih basah,” pikirnya. Lembaran usang dan kasar tersebut terasa dingin di ujung-ujung jarinya. Lembar kecoklatan itu kosong, seperti juga lembar-lembar lainnya dalam buku itu. Loup menggeleng heran, berpikir untuk apa ada sebuah buku di perpustakaan yang isinya tidak ada. Buku kosong adanya di toko buku dan tas-tas anak-anak sekolah. Itupun buku-buku baru, dengan lembaran putih bersih dan sampul warna-warni. Loup yakin Vanda tidak bercanda, tapi yang ada di hadapannya cuma buku usang yang basah dan kosong. Loup berjalan ke tepi jendela dan duduk sambil memandang langit yang cerah berbintang, jam segini tidak akan mudah melihat pemandangan apapun kecuali rumah-rumah yang menaruh lentera minyak di depan rumah mereka. Ia tidak bisa melihat perpustakaan Pak Londra, padahal letaknya tidak terlalu jauh, tapi perpustakaan itu selalu gelap. Lentera-lentera hanya dinyalakan di ruang baca dan hanya saat ada yang membaca. Loup tergoda untuk mengunjungi perpustakaan dan bertanya-tanya pada Pak Londra tapi tidak malam ini.

Dilihatnya rumah Vanda yang terang benderang oleh deretan lentera pada tiap sudut rumah, hanya kamar Vanda yang selalu agak gelap, lampu hidup saja yang tergantung di dalam kamarnya, jadi Loup hanya bisa melihat siluet vanda dari lotengnya, seperti malam ini. Dipicingkannya matanya sedikit. Ada siluet jelas keluar dari kamar mandi yang terang masuk ke kamar yang gelap dan jadi bayangan hitam saja. Vanda kah? Tentu saja. Siapa lagi? Loup menelan ludahnya. Vanda memang sahabatnya tapi ia tetap wanita dan sudah lama Loup melihatnya sebagai wanita. Loup membuang muka, mencoba mengalihkan pikirannya pada tugas mengeringkan bukunya malam ini. Ia pun berjalan lagi ke pojok kamarnya tempat peti tua, buku basah dan lenteranya berada.

“Tidak ada gunanya” pikir loup. Dibukanya lembar demi lembar halaman buku tua yang mulai mengering itu. tetap tidak tertulis apapun. Dibawanya buku tersebut mendekati lentera minyak dengan harapan ia akan bisa melihat puisi-puisi yang dikatakan oleh vanda. Tadinya ia berfikir, jika buku itu sudah mengering, puisi-puisi itu akan muncul dengan sendirinya. Seperti buku ajaib. Tapi ternyata tidak seperti itu. Putus asa dilemparkannya buku itu ke atas meja kayu. Jika hingga esok pagi Vanda tidak menemukan sebaris kata pun didalamnya, ia pasti akan marah padaku. Tapi saat ini tidak ada yang bisa dilakukan, jadi Loup memutuskan untuk tidur dan berharap keajaiban akan datang.

Diseberang utara, Vanda melihat kamar Loup yang masih terang benderang. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana Loup membolak balikkan buku tua itu. Vanda tertawa membayangkan ekspresi keras kepala Loup saat ia berusaha mencoba membaca apapun yang tertulis disana. Tapi Vanda mulai mengerti, Loup tidak bisa menemukan apapun seperti halnya Lak Londra. “Jalan menuju kota yang tidak pernah gelap” begitu kata Pak Londra. Benarkah kota seperti itu ada? Vanda mencoba membayangkan rasa matahari di kulitnya. Tidak bisa.. hanya ada dingin yang membekukan. Mungkin karena aku sudah terlalu lama hidup dalam gelap, pikirnya. Tapi, bukankah hal yang menyenangkan jika Hagitsra bisa bercahaya lagi? Akankah senangnya bisa membaca di padang rumput tanpa harus membawa-bawa lentera? Dan tidak akan ada omelan lagi karena terlambat pulang. Dibuku itu pasti tertulis caranya pergi ke kota yang penuh cahaya dan mencari tahu bagaimana caranya membawa matahari ke hagistra. Mungkinkah Loup mau membantunya?

Vanda mengulang adegan di lapangan tadi. Loup memang tidak tampan seperti Jon ataupun Luthe, akan tetapi Loup teman yang sangat menyenangkan. Hanya Loup yang tidak menganggapnya aneh di sekolahan. Loup selalu mendengarkan ocehan Vanda cerita dongeng yang baru saja ia baca dari buku yang ia pinjam dari perspustakaan Pak Londra. Dan sekarang walau selalu mengejek, Loup terlihat percaya waktu Vanda berkata ada puisi didalam buku itu. Vanda menyayanginya. Pasti Loup mau membantunya, seperti halnya Vanda yang bersedia melakukan apapun untuk sahabatnya itu.

Membawa mimpi tentang Loup dan hagistra yang hangat, Vanda tertidur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar